Sepulang dari Palmerah

perasaan perasaan akan kukubur
sebagai batu yang kelak hancur
dipukul palu di atas bis dan demi baju baju, celana,
handuk yang tergantung di palang pintu
akan kubaringkan remuk tubuhku ini
dalam kesunyian kamar yang kekal tanpa
berisik persoalan atas nama kertas kertas
yang tercecer di lantai
di meja di kasur di got depan kontrakan
yang membuat kepalaku panas bagai ditimpa
nyala matahari
biarlah orang orang menerima kenyataan
dalam kendaraan kendaran yang macet
dan nit not klakson yang senantiasa menyekap mereka
seperti kucing kelaparan di trotoar
sedangkan aku setia mengunyah waktu
seolah hidup berlangsung lama
tanpa demi demi tanpa atas nama
semuanya biarlah semulus bismillah

Jakarta-Bandung-Depok, 2011

SAJAK: RUMAH

RUMAH

1/
lagi-lagi aku dengar
nyanyi azan. bagai katup
bunga. menutup dan enggan
terbuka

2/
pada sebelum maghrib telah kita
temui bulan tak sampai purnama.
sesuatu dalam tubuh kita kelak
menyimpan cahaya

3/
aku mencium harum bunga
pada detik ketika maut
begitu dekat. doa hanya serupa
omong kosong. mirip pembicaraan
seseorang dengan kenangan

4/
ada baiknya kita rahasiakan
pertemuan yang mengunci
batin kita hingga menjadi kekal
waktu. dan perjumpaan bagai
ruh tak bertubuh.

5/
biarlah aku mengenali
wajahmu dalam rupa sepi.
kekosongan yang menyekap
kakiku sampai ke pintu
waktu. hingga

akhirnya kita sama sama
mencari arah. yang orang-
orang tak pernah duga

6/
dan selalu saja sebagai puisi
aku tak dapat menjadi arang
yang bisa kau andalkan
sebagai api. yang menyala
yang membakar segenap

hasratku. tak habis habisnya
tersungkur dalam seperempat
rindu. melebihi napasku yang
mendengus. sebelum lampus.

7/
aku hanya perlu tempat
kembali. sesuatu yang
membuatku betah menjaga sunyi

2011

Dua sajak dalam Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Trowulan 2010 (Dewan Kesenian Mojokerto)

dengan tangan mungilmu itu

dengan tangan mungilmu itu
kau ajak aku mengunjungi
setiap bingkai kepalamu
kau antar aku pada setiap keheningan baru
dunia yang bisa membuat kau dan aku tersenyum
hanya dengan menelusuri lekuk sudut bingkai kepalamu
gambar-gambar manusia aneh, jari jari tangan tak utuh,
kepala manusia berjumpalitan, senyum bibir yang jatuh
dan warna biru kelabu.

padahal kau masih berlari, bermain dengan sedikit rumputan
dan rumah gedek bambu. ada sepasang kupu kupu yang murung
di dahan pohon rumahmu. pun pelukan ibu yang kerap kau rindu
selamanya kau akan bicara dengan tangan mungilmu itu
tangan yang menjadikanku patung di depan bingkai kepalamu
setelah sekian jam aku diam dengan seluruh kesunyian, lalu aku baru bisa menyeru
sedikit namamu: salsabila, kisah dari negeri tanpa nama yang rusak dan berantakan
setelah sisa namamu hanya secarik kertas buram dan pensil yang patah
di pinggiran kota.
aku hanya mampu mengenangmu sebagai tegal alur, tegal alur
rumah roboh segala duka!

depok, 2009

*tegal alur: nama daerah di Cengkareng, Jakarta Barat yang pernah terkena
penggusuran

 

emak menanti ujang datang berdendang

ujang, ayo dendangkan lagi nasib masa depanmu!
seru angin dan riuh lautan kota

lalu sampai ke mana kau akan mengejar matahari
kasian emakmu yang rikuh menunggu masakan hari ini
seperti senar gitar yang kau petik keras sekali sampai merintih
emakmu perih melangkahi tanah tanah kering penuh matahari
menanti ujang kapan datang
emak ingin memasak nyanyian kesukaan ujang
sebab emak senang ujang telah bisa menciptakan
hari hari sendiri tanpa bantuan angin pagi

setelah lagumu garing ditelan angan angan
kau diami malam sunyi serupa kamar idaman
yang kau tata di pinggir kota laksana rumah baru
padahal kalau kau suka kau masih bisa berbaring
di lobi gedung itu meski ranjang dalam kamar
mengharamkan tubuhmu untuk sekadar terkapar
hanya karena lebih baik kau terbakar atau mati kedinginan

baiklah ujang, lebih baik emakmu tak perlu tahu
bahwa malam ini kau mengumpulkan banyak nyanyian
untuk emak masak bulan depan

tak perlu tahu pula kalau kau lelap semalaman
di depan kantor bis malam

2009

Dua sajak dalam Antologi “Ziarah Kata” (Majelis Sastra Bandung, 2010)

airmata pujangga

tangisilah airmata
yang tak meleleh ketika
kau melempar jiwa
ke dalam neraka

pulang dari kesulitan
kau hampir saja memeluk tuhan
tapi kenapa kau jatuhkan

tangisilah airmata
sekarang juga
segera setelah Allahuakbar
memanggilmu untuk
membasuh muka
agar diammu tak selalu kekal, pujangga!

2008

 

weekend

tak selalu malam minggu
langit dan bulan menjaga cengkrama
lantas bercinta

seperti cinta menghangatkan air dalam termos
menyusup
panas
meregup redup ke pembuluh jiwa
ke urat syaraf
ke urat nadi
ke ulu hati

kata memberi bukan lagi tembok untuk berbagi

dari setiap hari
dari dirimu alami

2007

3 Sajak dalam Antologi “Empat Emanat Hujan” (Dewan Kesenian Jakarta, 2010)

MENENGGAK SAJAK

kau terus mendesakku menciptakan lagi sajak sajak baru dari curug airmata
yang tak henti hentinya menetes di bebatuan. lalu daratan menciptakan lubang
untuk kau gunakan sebagai keranjang sampah bekas perjalanan.

lembar lembar sajak. gelas gelas kalimat. serta onggokan kata berjejalan di kepalaku
menciptakan dunianya sendiri. kita tidak sedang bermain, bukan.

sebab semestinya malam ini kita berjalan iring iringan menuju tanah lapang yang luas.
di sana kita bisa menikmati waktu. beristirahat. menyeduh kopi. meneguknya. menyicikan anggur. menenggaknya. menyulut rokok. menghisapnya.

membaringkan tubuh. menguburnya.

 

depok, 13 Juli 2010

 

MENENGGAK SAJAK, 2
–agar besok malam kita menulis puisi lebih panjang

tubuhmu bersarang di doa doa
menyelinap ke bukit bukit
malam membangun kesunyiannya sendirian
sementara aku masih saja berkutat
dengan laut dan pohonan
puisi demi puisi tak selesai kutulis setiap malam
beberapa prosa panjang hanya sembunyi
di laci lemari pakaian
lalu apa gunanya sunyisepi sendirian
kalau besok kita mati kelaparan!

tapi daripada kita mati sunyi sendirian
lebih baik kita menulis doa doa
agar besok malam kita bisa menulis puisi
lebih panjang!

2010

 

padahal sajak kita tak pernah diam

aku turun ke bumi
kemudian rindu lagi
menghantam langit
di jalanan tak ada apa apa
hanya tanah basah
dan genangan hujan
yang tak mengerti duka kita

padahal sajak kita tak pernah diam
menulis lagi banyak kecemasan
di jalan jalan di malam malam
melewati batas jam dan kematian
hingga subuh terus tenggelam
dan kita terus saja mencatat
seberapa jauh jarak jalan
yang mengukuhkanku dan kau
sebagai pengelana perengkuh bulan

walau di bulan kita tetap saja diam
dan tak mengerti seberapa besar luka bumi
merintih tiap hari tiap malam

cibiru, 2010

Seekor Merpati dan Surat-surat

Aku seperti melihat langit itu biru kelabu. Pucat pudar dalam dekapan awan. Gagak-gagak hitam beterbangan. Dari barat ke selatan. Selatan ke timur. Lalu utara. Dan akhirnya singgah di jendela rumahku, mengendus sesuatu serupa kematian.

Siapa lagikah yang akan kaukirimi surat, Antonio. Beratus-ratus halaman kautulis, namun tak kunjung kau menerima balasannya juga. Sejak datang dari pesisir dan pelosok desa, kau seperti kesurupan menuliskan segala harapan. Namun tak kunjung kaudapatkan juga. Sampai akhirnya muara surat itu hanyalah keranjang sampah.

Aku selalu menyaksikanmu berbulir keringat menuliskan segala harapan pada secarik kertas kusam di meja belajar dekat jendela kamarmu. Di rumahmu yang besar dan lengang ini. Kau begitu serius. Seakan tak peduli pada sekelilingmu. Dalam dadamu hanya berkobar semangat bagaimana menyelesaikan surat itu dan berakhir di keranjang sampah. Surat-suratmu pun menumpuk di keranjang sampah. Harapan-harapanmu menumpuk di sana.

“Rifki, rasanya aku masih belum tahu tebusan apa yang layak untuk orang sepertiku,” katamu suatu hari di dekat jendela kamar. Kau masih berdiri termenung setelah merpati putih itu mengirimmu surat lagi. Dan kau seperti tak tahu bagaimana harus membalasnya.

***

 Selalu ada saja setiap senja tiba, merpati putih itu datang. Hinggap di jendela kamarnya kemudian menyelipkan sebuah surat pendek yang isinya seperti sentakan untuk membangunkan jiwanya. Entah dari siapa. Tapi kurasa ia tahu siapa gerangan di balik surat yang datang padanya itu.

Aku selalu datang ke kamarnya hanya untuk meminjam buku-buku yang penuh tertata rapi di rak bukunya. Dan setiap kali itu pula ia mendekat kemudian berbicara seputar  kehidupan yang awalnya aku asing dengan apa yang dimaksudnya.

“Aku tahu manusia adalah tempat salah dan lupa. Dan tadi merpati putih itu datang lagi. Ada surat untukku dan isinya, aku tak kan pernah memaafkan manusia sepertimu. Karena aku selalu menjadi korban kesalahan manusia-manusia sepertimu. Begitulah sepenggal kata dalam surat itu tertulis, adikku. Tapi aku tak pernah sempat menitipkan secarik surat pun untuk membalasnya pada merpati itu,” katanya dengan masih tetap berdiri dekat jendela, pagi itu.

Aku terdiam. Ia pun tak meneruskan kalimatnya lagi. Pikirannya kemudian hanyut dalam keheningan udara pagi yang masih dingin mengenaskan. Kamarnya sedikit berantakan dengan kertas-kertas, dengan buku-buku. Aku tak berusaha keras berpikir apa makna di balik ucapannya. Tapi aku hanya ingin menjadi bagian dari kegelisahannya, yang setiap pagi selalu mengusik ketenangan hidupnya dengan surat-surat dari sang merpati.

“Kak, apa kakak tahu sampai kapan merpati putih itu akan selalu mengirimkan surat-surat misteriusnya?” tanyaku seraya melihat ke luar jendela seperti halnya dia memandang alam luas yang kini mulai rapat tertutup bangunan-bangunan padat.

Antonio hanya menggeleng setelah mendengar pertanyaanku. Sejenak kami hening. Aku tetap memandang ke luar jendela. Tapi tak lama ia pun menjawab, “Namun aku bisa memastikan ini sampai kapan,”

“Ya, ya. Aku harap begitu. Segala sesuatu pasti ada akhirnya,” ujarku singkat.

“Kau semakin pintar adikku, semua memang ada akhirnya. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Tapi aku sering mempersalahkan hal ini dengan Silvia. Ia mengacuhkan kekekalan itu. Terutama dengan apa yang namanya cinta. Cinta yang selalu ia anggap hanya padaku saja, tidak pada yang lain. Cinta pada apa yang ia senangi. Tanpa berpikir kalau aku juga bagian dari kefanaan itu. Aku bagian dari tidak kekekalan itu,” Antonio kemudian berbalik membelakangi jendela. Ia mengambil sebuah buku di rak yang ada di sampingnya.

“Ki, kamu tahu ini buku apa?”

“Maksud kakak?”

“Kau lihat judul buku ini dan kau tebak dalam buku ini membahas tentang apa. Itu kalau  kau benar-benar seorang pencinta buku,”

Aku sejenak diam. Kupandangi buku itu. Aku lihat depan belakang buku itu. Aku mengerutkan kening. Hatiku masih berpikir apa sebenarnya yang ia maksud.

“Ya aku tahu, ini buku tentang..…”

“Haha, tak perlu kau jelaskan,” Antonio menatapku lekat-lekat. “Dengar, kehidupan tidak ada dalam buku ini. Dan mungkin juga dalam buku-buku yang terjejer rapi di rak bukuku. Tapi kau hanya bisa belajar sedikit darinya. Hanya sedikit. Ya, hanya sedikit.”

Aku mengangguk. Aku tahu kalau kehidupan itu tidak ada di buku. Tapi di kenyataan hidup kita sendiri. Aku mengerti itu dan aku… Ah, tapi bukankah aku mengerti hal itu pun justru dari sebuah buku. Aneh. Sungguh pagi ini mulai memasuki tahap pertemuanku dengan Antonio semakin memusingkanku. Merpati putih selalu datang setiap pagi. Surat misterius yang selalu menjadi tanda tanya apa maksudnya. Dan kini, buku dan kehidupan menggenapkanku menjadi sarapan pagi yang pahit.

Aku teringat lagi, saat pertama kali merpati putih itu membawa secarik surat ke jendela kamar Antonio. Ia selalu mendung dalam diam. Ia berkata kalau ia tak pernah bisa memaafkan dirinya lagi. Lalu katanya lagi, “Kau jangan pernah bermain-main dengan kebebasan. Kau jangan berbuat seenaknya dengan kebebasan. Suatu saat kau akan terbelenggu olehnya,”

Tentunya aku selalu berusaha menjadi adiknya, bahkan seperti sahabatnya, teman dekatnya yang sewaktu-waktu mungkin juga menjadi sosok kakaknya. Aku akan tetap mendengarkannya. Saat itu ia terhuyung meremas-remas rambutnya yang sedikit gondrong. Sesekali menatap langit-langit kamar kemudian menunduk lagi memendam keresahan. Di sampingnya ada secarik surat dari merpati itu.

Hei Antonio,

Kamu akan tahu akibat yang kamu perbuat. Aku ingin melihat akibat itu di sini, di dunia ini. Tak ingin kutunda-tunda. Kalau kamu ingin belajar menjadi hebat, telanlah pil pahit kelakuaanmu itu…

 

dariku,-

 

Aku tak berani bertanya apa maksud surat itu. Ia masih dalam suasana galau. Mungkin dia punya masalah dengan kawannya atau kekasihnya atau siapalah yang tiba-tiba menjadi musuhnya.

Pada awalnya aku tak pernah percaya yang mengantar itu adalah seekor merpati putih. Tentu saja logikaku berpikir begitu. Ini bukan zaman Dinasti Mamluk abad 15 Masehi atau kerajaan-kerajaan dulu yang masih mengandalkan kemampuan binatang sebagai alat komunikasi jarak jauh dalam mengirim pesan. Tapi sekali aku pernah melihatnya merpati itu pergi dari jendela kamarnya setelah secarik surat mengusik paginya lagi.

Aku pernah memberanikan diri bertanya kenapa kok merpati putih itu yang membawa surat. Siapa gerangan. Namun ia hanya menjawab, “Ada yang lebih berarti dari merpati yang mengantarkan surat itu,”

Aku kembali mengerutkan kening. Berusaha berpikir keras. Tapi tak bisa.

“Ki, tak lama lagi kau akan mengalami fase hidup sepertiku. Ingat, papah mamah kita masih ada. Meski aku sendiri tak pernah merasakan keberadaannya. Ada hal yang bisa dan harus kaupersembahkan untuknya di atas segalanya. Bahkan di atas kekasihmu sekalipun. Andai kau mengalami pertentangan di antara keduanya, jangan pernah kau membuat mereka menderita.meskipun kita menderita olehnya. Aku dan kau adalah anak-anak zaman. Karena orangtua tak lagi bisa mempengaruhi kita,” Ia mengambil surat yang masih tergenggam di jariku. Membacanya sebentar. Tapi kutahu tatapannya kosong.

“Ki, lihat merpati itu terbang ke sana ke mari. Sekalipun ia membawa surat duka tapi ia tak terbelenggu olehnya. Bahkan meski ia membawa surat cinta, ia tetap terbang bebas tanpa melepaskan cinta di surat itu,” Antonio seperti antusias menunjuk-nunjuk seekor merpeti yang bermanuver di atas rumahnya dengan menggenggam secarik surat.

***

Sudah tiga hari, setiap pagi aku berlama-lama berdiri di jendela kamar Antonio tanpa di temani olehnya. Tak ada lagi merpati puith yang datang membawa surat misterius itu. Di mana kakakku sekarang? Sedang apa dia? Mungkinkah dia sedang mencari merpati itu ke mana terbangnya. Ataukah ia sedang melacak siapa di balik surat-surat yang selalu ia terima itu. Ah, sepertinya ia sudah tahu siapa yang menulisnya tapi ia pendam dalam-dalam. Tapi, aku tak tahu juga. Begitu pintar ia menyimpan misteri ini.

Katanya, waktu itu ia tak lama akan pergi. Ia ingin memastikan kalau surat itu tak kan datang lagi. Sudah terlalu banyak surat itu menumpuk di mejanya. Ah, surat itu. Aku mendekat ke meja belajarnya. Benar, surat itu sudah menumpuk puluhan lembar. Tanpa amplop, tanpa prangko, tanpa alamat, tanpa keterangan nama. Aku melihat-lihat sekilas. Dan aku ambil selembar,

Hei Antonio,

Aku memilihmu karena ragamu dan aku yakin kamu juga begitu. Kamu telah berguru pada nafsu-nafsu hatimu. Kamu telah lama berlabuh ke tengah lautan. Dan sekarang kamu rasakan, kamu akan tenggelam. Setelah tubuhku kauacak-acak, pikirkan bagaimana kamu akan selamat, Antonio….

 

dariku,-

Tenggelam, lautan, selamat. Ah, apa gerangan. Aku letakkan lagi sepucuk surat itu.  Aku terduduk di pinggir kasur. Melihat ke jendela yang terbuka. Di sana ada bayangan Antonio. Ia berdiri memandang alam terbuka. Sebentar kemudian sang merpati datang. Kemudian menjatuhkan sepucuk surat. Dingin sekali wajah merpati itu. Aku yakin ia tak bekerja untuk seorang tukang pos mengantarkan surat. Ia juga tak bekerja untuk sebuah perusahaan besar mengembalikan surat lamaran kerja yang ditolak.

Merpati putih itu tak lama diam. Ia terbang lagi. Tak bersuara sesiul pun. Kulihat Antonio membuka gulungan surat itu. Kemudian memabacanya getir. Ia datang mendekat padaku. Lalu katanya,

“Rifki, aku tak percaya dengan cinta. Ia selalu penuh curiga. Ia selalu menggelapkan mata. Ia selalu penuh dusta. Ia mengubur harapan dan cita-cita. Juga hanya bisa menggiring bukan seiring. Apakah cinta sama dengan wanita atau orang tua kita?”

Ia kemudian berbalik lagi ke jendela. Menghela nafas sebentar. “Padahal di luar sana banyak yang membutuhkan kita. Tangisan anak kecil yang menderita mencari ayah ibunya yang tenggelam dalam bencana, bocah-bocah yang tak punya seragam tapi selalu ingin datang ke sekolah, orang-orang yang dilempari batu lalu mati, orang-orang di pinggir sungai yang selalu digusur karena putus asa mencari tempat untuk sekadar bermalam, dan mungkin juga kita korban dari orang tua yang tak pernah mengerti bagaimana kita bercita-cita,”

Aku tetap duduk di pinggir tempat tidur. Kulihat ia berjalan ke meja belajarnya. Cahaya matahari pagi masih setia menyilaukan mata. Masuk ke lubang jendela kemudian memantul lagi ke luar. Antonio memasukkan beberapa buku dan catatan ke dalam tas. Kemudian membereskan surat-surat yang sedikit berantakkan itu di mejanya. Tersusun rapi. Dan aku benar-benar melihatnya. Aku melihatnya. Melihat Antonio.

“Kakak mau ke mana?”

“Aku akan pastikan kalau merpati putih itu tak akan datang lagi,”

“Maksud kakak? Mmm…nanti kalau Silvia menanyakanmu gimana?”

Ia diam. Matanya tajam menatapku. “Tidak akan pernah!”

Aku melihat ia melangkah. Tubuhnya lenyap dibawa sinar matahari. Dihembus angin pagi. Menembus dingin pagi. Ia menembus cahaya matahari, ke luar jendela kamarnya.

“Antonio kau mau ke mana? Jangan ke sana! Di sana panas, jangan ke sana! Di sana keras, kau akan hancur!”

“Aku tahu itu cahaya matahari, tapi…”

Kau pasti lenyap.

Oh Tuhan, ia hilang ditelan matahari. Merpati putih itu menggiringnya. Merpati putih itu memaksanya. Kenapa merpati itu menjadi sangar. Kasar. Ia mencengkramnya kuat-kuat. Oh Tuhan, Tuhan.

Hei merpati, lepaskan dia….

***

Banyak orang ramai berkerumun. Pakaian mereka hitam. Samar terdengar isak tangis. Kalimat-kalimat Tuhan dipanjatkan. Puja-puja doa terkenang. Kata-kata dukungan akan kebaikan pun terngiang. Aku berdiri di sudut menyaksikan tanah-tanah itu semakin meninggi, mengubur suasana pemakaman yang semakin sendu.

“Pah, Antonio Pah, anak satu-satunya kita…” Air mata Marlina berlinang. Terisak. Ia baru saja mendengar berita kematian Antonio saat masih sibuk di luar negeri.

“Sudahlah Mah, ini sudah kehendak Yang Kuasa. Kita relakan dia. Toh dia menghadapNya bukan dengan tangan hampa. Dia membawa jutaan nyawa berharga untuk selamat dari korban longsor di desa itu,” Herias sedikit menghibur istrinya agar tetap tegar sambil sesekali menerima telepon dari klien bisnisnya seraya memarah marahi mereka karena mengganggu kekhusyukan acara pemakaman Antonio, anak satu-satunya itu.

Aku tersenyum getir. Adakah kesadaran itu terjadi ketika semuanya belum terjadi. Aku masih diam di sudut. Orang-orang berhamburan pergi setelah bunga-bunga bertaburan di atas pekuburan Antonio. Aku masih diam di sudut. Dan kulihat lagi merpati putih itu.

“Hei kau mau apa ? Masihkah kau ingin membawa surat padanya, hah.”

“Tidak, Antonio telah memastikan kalau aku tak akan membawa surat lagi padanya,”

Mendadak orang-orang seperti tak menghiraukanku, bahkan tak menganggapku ada saat mereka pergi melewatiku dari tempatku berdiri. Kakiku seolah ingin beranjak melangkah ke dalam kubur Antonio yang penuh tabur bunga-bunga itu. Masuk ke dalam. Dan terbaring dalam jasadnya. Menjadi Antonio.(*)

–2011—

dedikasi kepada orang-orang tercinta

 

Dimuat di Harian Tribun Jabar dan Jurnal Medan, 17 Juli 2011

 

 

 

 

Lima sajak di Lampung Post, 12 Juni 2011

maha samudera desember

akan kukembalikan
desember yang pernah
kaupinjamkan tempo dulu
saat kita menjarah bulan
di tepi pantai
yang arahnya tak tentu
dari selatan ke timur
tak habis habis kita memuja
maha samudera
padahal dada kita lebih lautan
membentang layar, menantang gelombang
sementara kita terus mencatat
badai demi badai yang menabrak
dinding perahu hingga kandas
hingga terhempas

2010

 

pada sebuah malam turun hujan

 

telah kutembus kedalaman wanitamu
pada sebuah malam turun hujan
sedang dari tubuhku
yang gemetaran
keluar sajak serupa ular, menjalar
mengikat tubuhku ke dalam tubuhmu
yang telanjang sepanjang malam di dalam kamar

telah kutembus jantung wanitamu
pada sabtu malam kita menyobek bulan
dan menggantinya dengan tubuhku
yang telanjang seperti tubuhmu
hingga gelap tak serupa kegelapan
sebab tepat di depan matamu
kita telah menyulut cahaya dengan sebuah
sajak indah dari gelas gelas bir kosong
di pinggir jalan

2010

 

pelaut mabuk, di dasar sajak bermain gelombang
–saut situmorang

 

(sajak dibentang
laut bergelombang)

ahooi, pelaut yang mabuk
tiap gelombangkah
kau mengibarkan ombak
berperahu layar
ke tengah sajak?

ahooi! ahooi!
pelaut yang mabuk, pelaut yang tenggelam
di dasar sajak bermain gelombang

2010

 

seperti pertama kali menulis sajak

 

aku mengingatmu bagai sakit kepala
seperti menulis puisi di malam buta
memikirkan arah kata, merapikan persoalan
dengan dada bagai malam larut, mata setengah terpejam
dan kepala terus berdenyut

lalu bagaimana aku bisa melupakanmu
kalau kematian pasti datang
dan membayangkanmu seumpama maut?

di sini, di sisa kopi yang tinggal seteguk
aku membayangkanmu seolah tepat di hadapanku
menceritakan tanah kelahiran, mengisahkan asal muasal
padahal masalalu hanya perihal waktu

kepalaku lagi lagi seperti ditikam jam
seperti mengulang keberangkatan
aku merapikan baju, membetulkan tali sepatu
lalu berdiri melihat dunia seperti masa kanak kanak
seperti pertama kali aku menulis sajak

maret 2011

 

selepas membaca Rendra

 

bulan telah pingsan
di atas kota
tapi tak seorang menatapnya!

kalau hari sudah malam
ke mana lagi kita berjalan
di luar hujan berhamburan
di kamar dosa bermekaran
dan tiap kuingat asmaMu
mampir di telingaku
kubuka jendela tubuhku lebar lebar
agar kalimat sajakku tak hanya jadi udara
tak cuma jadi kata kata

siapa sedia menolongku
jikalau tubuh belulangku ini
patah hanya jadi tanah
jatuh hanya jadi bunga

tubuhku berbunga dosa,
tubuhku bermekar dosa

tidakkah tiap mengingatMu
tubuhku menjadi tanganMu
tubuhku menjadi-Mu?

2010-2011

Empat Sajak di Jurnal Bogor, 24 Oktober 2010

sebuah sajak dan rahasia pertemuan
-iwa & mas aziz

biarlah nanti pada akhirnya nasib
yang mempertautkan tangan kita
setelah malam tiba
di akhir baris kalimat ini akan tertera
pertemuan yang tak pernah
kita perkirakan
sebab di hari itu di usia malam yang
setengah muda
bangku bangku taman tak lagi menggelora
daun daun luruh
udara malam kian tajam
tiba tiba aku merasa tanganku mulai kelelahan
menuliskan sebait lagi puisi untuk kau
padahal sisa malam masih panjang
dan pertemuan selalu saja menjelma rahasia

tamankampus, 30 Juli 2010

 

perempuan yang namanya ingin dicatat dalam puisiku tinggal di oktober
-yhaya

perempuan itu selalu mencegatku
saat aku sedang sibuk mengantarkan puisi
ke alamat alamat tak bertuan
padahal setiap jam ia pun sibuk
mencuri puisiku selarik dua larik
dan aku tahu itu
namun sejak ia memohon padaku
untuk menuliskan namanya pada
puisi puisiku
ia lenyap. dan hanya meninggalkan
secarik alamat: rumahku oktober dan akan segera pindah
setelah puisimu tiba

Juli, 2010

 

tentang perempuan yang menagih lusinan kata dan aku menjadi rindu
-iyya maliya

 

aku selalu ditagihnya menyusun lusinan kata
padahal aku lebih senang menyusun senyum wajahnya
yang selalu membuatku lega.
itu tak seberapa. ada lagi hal yang selalu membuat keringatku beku
seperti butir salju yang menumpuk di dadaku bertahun tahun lamanya.
adalah kalimat kalimatku tak pernah tumbuh dewasa saat kau datang merayu
dan mencumbunya.kemudian mengajaknya pada sekian sayembara
dan kompetisi yang aku pun ragu melepas kalimatku pergi.
padahal aku telah mengasuhnya sekian lama sekian masa
tapi mengapa bukan kalimatku yang rindu padamu
tapi aku!

2010

 

kisah si penyuka kebebasan

Ingin kukisahkan peristiwa semalam :
si penyuka kebebasan itu tiba tiba datang menghirup bau tubuhmu yang menggetarkan dalam sebuah kamar terang malam begitu memabukkan dalam rindu ia mengekalkan sunyi mengental dalam darahnya menjadi puisi paling indah dan abadi di dunia ini -sambil menggumam diam di depan televisi hitam putih miliknya ia wiridkan puisi indah itu untuk kau reguk dalam dalam sebelum ia melanjutkan perjalanan menyusuri dinding dinding jalan, dingin udara malam, dan redup lampu kota yang membuat tubuhnya berguncang guncang kemudian lenyap menjadi butir butir angin yang tak bisa digenggam olehmu bahkan oleh siapa pun

2010

PINOLA SUAKO

PINOLA SUAKO
–bagi wa ode wulan ratna

Johra, biarlah aku menyertaimu
bukan sebagai Run yang mengajakmu pergi
lalu menghabisimu satu malam saja.
sejak malam pauncura itu menyekapmu,
melafalkan doa doa, lalu memandikanmu
dengan wangi cempaka
sejak itu pula aku senantiasa setia
mengendus harum tanah, melacak jejak purnama
agar kita bebas sembunyi dari kutukan para bhisa,
bukankan itu maumu selagi hati kita benar-benar batu!

ayolah Johra tinggalkan rumah itu.
bukankah aku, puisi yang kau cari cari itu
sepanjang hayat, sepanjang tahun yang
tercabik cabik sepi. keinginan ayah adalah
keinginan leluhur, kehendak parika
yang memaksa kita
hidup dengan aturan aturan.
bukankah engkau hendak menulisiku, mencatatku
dalam kesunyian
yang pingsan
di hutan hutan.
percayalah Johra, gendang ayah tak akan pecah
sebab ia hanya menginginkanku tumpas
sebagai abu. sebagai kertas
kosong tak berbekas

ataukah kau masih ingin sendiri
dalam suo yang pengap itu sebagai api
sebagai gadis yang tak perawan lagi.

2011

*Pinola Suako: perbuatan kawin lari yang dilakukan pihak laki-laki dalam tradisi adat buton

KERENCENG, 2

–haryanah

sebelumnya aku tak mungkin
menulis perasaan yang paling dingin
dengan tangan ditembus hujan.
daun-daun pun tak bisa kujadikan kertas.
namun malam itu, dengan hati paling gerimis
tiba-tiba tubuhku menyala, bulan yang tadinya
pucat tiba-tiba purnama. dahan rasamala yang
merimbun di sepanjang lereng kemudian
rubuh. aku bagai hendak melumat bibirmu
dan mengekalkannya di lereng ini.
O sayang, api rinduku biarlah berkobar di sepanjang hujan!
dan hujan yang sedari tadi turun bagai serdadu itu
biarlah mengental. aku menyaksikan air coklat tua luruh
menyusur tanah bagai bah. air apakah ini. aku ciduk air-air yang luruh itu
dengan tangkai puspa, lalu tetap saja aku tak bisa menulis rindu.
tak ada lagi yang membekas padaku
kecuali wajahmu yang menyala di puncak ingatanku.

mei 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.