Terserak
Terserak di sana
Lembar-lembar kusam
Kutinggalkan
Bait jiwa usang
Menggenapkan kamar yang
Berantakan
Terpendam bersama malam
Menjerit di kala siang
Bukan sekedar tangisan
Tapi pemberontakan
Berkoar di senyap kamar
Sunyi dari kehidupan
Jauh dari mata insan
Semakin jauh
Hingga pintu-pintu
Terbuka di gerbang jiwa
Menjadi tanya
Tanpa jawab
Terus terserak
2007
Riung
Di riung-riung diskusi
Dalam lingkaran opini
Menyusul gemericik ait langit
Akal fikirku terbang
Ke awan lelah yang hebat
Segumpal endapan jiwa
Kuat menahan
Segenggam beban menggerayang
Ke denyut jiwa gersang
Sinyal jiwa penuh
Diam bosan geram
Aku duduk dalam ruang
Seribu makna tak kudapatkan
Sejuta beban mengenaskan
Celoteh liar berjangkit
Diriku sakit tanpa bisa bangkit
Karena fikir tak lagi mungkir
2007
Kesal
hidup di alam
kesal
semua berkelakar
darah-darah mendidih
terbakar
urat-urat kencang
hengkang dari tenang
aku menjamu muak
memerih kesal
sesal
2007
Syair Duka
membolak-balik lembar kisah
syair-syair bertebaran
melempar gelisah
jerat itu akan tetap ada
melukis bumi jiwa
seperti air
diam mengalir
tergenang bergelombang
menetes
penuhi sungai luka
bertemu di muara
muara duka
2007
Hanya di Kereta
cerita-cerita mengumbar
ke udara
si bapak juga si muda
membelalak mata
ternyata kutahu
kehidupan itu ada
berbeda
mengapa dan apa
bagaimana dan bagaimana
sejauh apa
hanya diatas kereta
begitu dalam
jiwaku terpaksa bicara
penaku terpaksa berkata
terjang
terjang saja
hingga jiwa habis bicara
2007
Radar Bandung, 29 April 2007








Komentar
Pada akhirnya, sikap kita terhadap penderitaanlah yang menentukan. Nice post. Salam kenal dari pargodungan.
nice to meet you….
semoga ada banyak pelajaran dari langkah waktu kita….
-renosta-