Maaf, Aku Cuma Punya Buku Harian!
Maaf, aku cuma punya buku harian
nongkrong di warung kopi jalanan
melihat anak kehidupan
tinggal rokok sebatang di tangan
kenapa pagi jadi siang
padahal rumah besar
apa nggak takut kesasar?
Ini buku harian,
buat bayar !
2008
Belum apa-apa
Di kening hiasan kekasihku itu tumbuh
mengganti sore yang muram di hadapan tuhan
menyudahi munajat sehabis keringat
bolehkah memelukmu di batas angin saja?
Tak usah memberiku seribu mantra
menebus dua hari kemarin sebab cinta
karena aku belum apa-apa
2007
Menyimpang
Nurani terus kau lawan
Ibu tak tahu. Bapak tak tahu. Tuhan hanya memberi jalan
Semalam kau langsung tidur. Segalanya kau lupakan
Apa artinya kebenaran? Apa artinya kenyataan?
Sesuatu yang terus kau lawan
2008
Di Tubuh Derita
Derita keabadian itu
di tubuh dunia penciptaan dengan belukar darah
menyerah. Menghantam setiap langkah memerah
Ada saja gangguannya di segenap cahaya itu
begitu ingin seperti angin
Menghembus terus
Menerpa arus. Memaksa kehendak dengan sebentar
lagi kehidupan pun rusak
tak usah tatap menjalak
kita tahu siapa kita di segala tak berdaya kita
titik saja
Itu keabadian derita
2007
Uzlah
Oh tidak
Kini ia menyuram di sudut masjid
di sebuah kota melaut Jawa
2007
Munajat
Tegaskan
beribu-ribu ampun
telah sekian menikam
hujan
2007
Seputar Indonesia, 13 April 2008







