Kita pernah sadar dengan cerita-cerita yang dulu pernah tertunda. Hanya dengan segelas kopi hitam pahit, asap rokok menggeliat berputar, angin sore berhembus pelan. Kita merayakan kegelisahan demi kegelisahan yang keluar dari tiap bulir asap rokok kita.
Kau banyak menceritakan segala peristiwa. Dan aku tak pernah benar-benar bisa memecahkannya. Walau untuk sementara waktu, memang rongga dada kita terasa lebih lebar. Tanpa beban. Tanpa masalah. Namun waktu terus saja berjalan. Menghantam tubuh kita. Membuat mata kita terbuka.
****
Warung Bu Jariyah ramai. Semua pembelinya rata-rata adalah mahasiswa. Warung ini yang paling banyak diminati di kampusku. Bukan hanya karena nasi uduk dan gorengan Bu Jariyah yang enak-enak atau minumannya segar-segar. Tapi juga di tempat inilah para pembeli yang sebagian besar mahasiswa itu punya ruang untuk berekspresi. Apa sebab? Karena dari warung Bu Jariyah inilah anak-anak muda, dan banyak aktivis mahasiswa berkumpul. Terkadang lokasi di sekitar Warung Bu Jariyah yang lumayan luas itu juga digunakan untuk acara kecil-kecilan seperti bedah buku atau forum diskusi serius antar kampus.
Selain itu, berekspresi di sini juga bisa berarti pembeli bebas mengeluarkan gejolak hatinya dengan cara apa pun, dari baca puisi sampai ujuk suara memakai gitar. Tak ada aturan baku untuk jajan di Warung Bu Jariyah, kecuali: bayar hutang tepat waktu.
Dan di Warung inilah debutku sebagai penulis cerita berawal. Sebab segala peristiwa bisa kutemukan meskipun sepele. Seperti pertemuanku dengan Isak sore ini,, kawanku di satu jurusan, tiba-tiba saja aneh dan membuatku mengerutkan dahi berkali-kali. Ya, berkali-kali.
Masih saja asap rokok yong keluar dari mulut Isak menggeliat di depan mataku. “Kamu tahu tidak kawan, kalau sebuah masalah itu ibarat air dalam gelas,” ujar Isak yang dari tadi ikut nongkrong di Warung Bu Jariyah. Ia tampak menyembunyikan gusarnya sambil menyeruput kopi hitam panas buatan Bu Jariyah.
“Maksudmu?” tanyaku yang duduk di sampingnya.
“Aku inigin kamu lihat gelas ini dan bayangkan berapa berat gelas ini apabila diisi air sampai penuh,” ia menunjuk pada gelas kosong yang ada di meja Warung Bu Jariyah.
Tampak para mahasiswa yang mampir untuk jajan sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk dengan obrolan masing-masing. Begitu pun aku dan Isak.
“Kalau gelasnya seukuran ini pasti nggak berat alias lumayan ringan,” jawabku sambil membayangkan gelas yang ditunjukkan Isak. Segala praduga yang menghampiri kepalaku coba kutepis. Walu akhirnya praduga itu berakhir pada kesimpulan pertama kalau ia sepertinya sedang dirundung masalah.
“Nah seperti itulah masalah. Sekarang kalau kamu berdiri dan angkat gelas isi air itu tinggi-tinggi lima belas menit saja. Apa yang kamu rasakan?”
Untuk sore ini sebenanrnya aku ingijn sebentar saja dari niat mencari ide cerita atau mengamati peristiwa-peristiwa apa pun. terlalu banyak pikiran-pikiran yang berjejalan dalam kepalaku. Tapi lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan Isak ini membuatku tak bisa mengelak. Entah mengapa.
“Hmm, sepertinya lumayan tambah berat. Berat badan sekaligus berat karena kesal ngangkat-ngangkat gituan dan lagi….nggak ada kerjaan….”
“Sekarang paham nggak apa maksudku?”
“Nggak,” jawabku sekenanya.
“Payah!”
“Yang aku nggak paham apa hubungannya antara aku dengan kamu tentang pembicaraan ini?”
“Lagi-lagi payah! Berarti kamu belum berpikir,” Isak menyomot pisang goreng panas yang baru saja Bu Jariyah hidangkan di meja.
Beberapa orang menyapaku, “Hai Septa, nongkrong aja nih!”
Aku balas senyum.
Seorang lagi menanyaiku jam berapa masuk mata kuliah tambahan besok. Kujawab singkat juga, “Dosennya nggak akan datang,”
Ada lagi wanita mendekatiku menanyakan kepastian cinta. “Septa, kamu masih mau menerimaku kan,” langsung saja kutolak mentah-mentah dan ia bersungut habis-habisan.
Kemudian tak lama datang Siska yang bilang aku dapat salam dari Eni, teman satu fakultas. Namun hanya kubalas kerlingan mata.
Dan kepada Isak cuma ada satu orang, ketua angkatan di jurusan yang menanyakan uang kas kelas yang belum dibayarnya, cicilan buku diktat kuliah yang tinggal tiga kali lagi bayar, kepastian ikut atau tidak studi banding dengan biaya paling lambat besok lusa, dan titipan salam dari Unit Seni Mahasiswa tentang kapan mengadakan acara buat tahun ini padahal dana sudah turun. Semuanya dijawab senyum. Getir.
Aku menghela nafas. Angin berhembus pelan. Aku yakin sebelum kiamat diciptakan, udara tak akan pernah habis. Sebab bagaimana kita mau mengabdi pada Tuhan kalau tidak ada udara. Bukankah perintah mengabdi pada Tuhan yang ada dalam kitab suci itu abadi.
Cukup. Aku sudah cukup memikirkan sebentar perkataan Isak tadi. “Aku paham maksudmu tentang gelas tadi,” jawabku sambil menyundut rokok filter yang kuambil dari saku celana. ”Maksudmu sebenarnya masalah itu ringan, hanya saja tergantung bagaimana kita membawanya hingga masalah itu menjadi berat. Persis seperti teori persepsi dalam Psikologi kan,”
“Masih kurang tepat,”
Aku semakin mengernyitkan dahi. Semakin tertantang. Dan semakin kesal. Pasalnya selama ini sebagai tempat curahan hati dan penulis cerita, aku tak pernah salah menebak dan menilai sesuatu. Dan aku yakin benar untuk curahan hatinya Isak kali ini.
Tiba-tiba Bu jariyah ikut bicara. “Mungkin seperti ibu, Sak, yang cuma tukang nasi uduk tapi bisa nyekolahin anaknya sampai SMA, ya kan,” Rupanya sedari tadi dia ikut menyimak perbincanganku dengan Isak.
“Ah ibu ini ikut-ikut aja. Itu sih bukan masalah, tapi kemampuan dan keyakinan ibu untuk membiayai sekolah yang akhirnya terbuka jalan,”
“Yah, mungkin begitu,” kata Ibu Jariyah.
“Masalah itu kalau berat ya berat. Kalau ringan ya ringan. Gelas berisi air itu juga berat sebenarnya. Hanya beratnya tak seberapa dibanding air satu dirigen atau gentong besar,” Isak menyambung lagi pembicaraannya. Posisi duduknya berubah, membelakangi meja kemudian menyender. Raut mukanya datar ibarat air menggenang. Tak berubah dan keruh. Rambut gondrongnya menghalangi mata. Ia singkapkan kemudian jatuh lagi.
****
Langit tiba-tiba keruh. Muncul kilatan-kilatan kecil. Jantungku segera berdegup kencang saat petir dari langit sana bergelegar kencang. Kencang sekali. Angin tak lagi berhembus sendiri. Jelegar petir menemaninya mengalun kencang. Entah petanda apa,m padahal sedari tadi tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Bahkan mendung pun tidak.
Mahasiswa yang jajan di Warung Bu Jariyah sudah banyak yang datang dan pergi. Berganti-ganti. Tinggal dua orang yang masih hanyut dalam pikiran masing-masing dan masih bertahan. Aku dan Isak.
Tiga kali sudah kupesan kopi. Tiga bungkus rokok sudah kutuntaskan. Tiga kali petir bergelegar di langit. Gerimis mulai merayap turun. Dan satu pertanyaan lagi masih belum kutuntaskan. Anehnya aku masih saja setia menemani keanehannya ini.
“Ya, berarti kau tinggal mau atau tidak mengangkat gelas itu,”
“Berarti kamu meninggalkan masalah dong. Bukankah itu suatu sikap yang tidak bijak,”
“Aku tinggalkan gelas saat aku masuk ruang kuliah. Begitu juga ketika aku masuk ke kamar mandi, ke kamar tidur, ke tempat main. Aku tinggalkan gelas itu di mana pun aku suka tanpa beban,”
“Dengan cara itu kau tidak merasa berat?”
“Ya,”
Matanya menatap rintik hujan yang semakin deras. Kakinya kemudian dinaikan ke atas meja. “Bu, pesen kopi lagi. Masukin catatan yang kemarin ya,”
“Udah, biarin aku aja Sak,”
“Thank’s ya,”
“Tenang aja, kita kan teman lama,”
Aku melihatnya seperti dalam guncangan hebat. Tapi, ah, tak seperti biasanya. Dia dulu adalah temanku di Unit Lembaga Seni Mahasiswa, tapi sebulan kemudian aku keluar. Sedangkan dia meneruskan karirnya di situ hingga kini menjabat ketua. Dalam pandanganku ia bukan tipe pribadi yang lemah.
Ia pernah masuk bui selama seminggu gara-gara menolak kedatangan seorang Menteri ke kampus dengan berunjuk rasa bersama mahasiswa lain. Kemudian ia menghubungiku untuk meminta bantuan pembebasan karena ia tahu ayahku seorang pengacara. Tak tampak di wajahnya raut ketakutan. Malah dalam pandanganku terlihat sosok yang tenang dan berwibawa. Ia begitu luwes memainkan ‘peran’ apapun dalam situasi setegang apapun.
Tapi ironis yang kulihat sekarang. Sebab yang tampak olehku kini ia seperti gelombang ombak dalam ember. Begitu rapuh. Begitu lunglai.
“Nah sekarang apa hubungannya analogi gelas itu dengan kamu?” aku melanjutkan perbincangan.
Mendengar pertanyaanku, ia menunduk. Tatapannya kosong.
”O ya aku harus ke sekretariat seni,” Ia beranjak. Namun ketika ingin beranjak, tiba-tiba dari kejauhan ada suara yang memanggilnya.
“Sak, Isak adikmu nih nyariin!” Rivo kawannya di Unit Lembaga Seni Mahasiswa membawa seorang bocah wanita berseragam SMP.
Kontan saja Isak terperanjat. Ia menatap Rivo dan seorang gadis belia itu dengan lekat.
“Tiara,” ujarnya pelan. Sangat pelan.
“Sak, adikmu tadi nyari kamu ke sekretariat. Tapi kamu nggak ada di tempat. Langsung aja aku bawa ke sini. Soalnya kamu biasa nongkrong disini,” jelas Rivo.
“Tiara kamu ada apa ke sini?” tanya Isak seraya menyingkirkan rambut lurusnya yang turun menghalangi mata karena tergerai angin. Hujan reda tapi langit masih pucat.
“Mmm, kak, a-aku membawa ini,” ia mencopot tasnya kemudian mengeluarkan surat dari dalam tas.
Aku lihat di kop amplopnya tertulis identitas sekolah adiknya. Isak lantas membaca surat itu. Bibirnya gemetar. Badannya seperti lemas mau jatuh.
“Jadi kamu?”
“Ya, kak aku dikeluarkan dari sekolah sampai ada kejelasan kapan biaya sekolah empat bulan ini bisa lunas,”
Oh Tuhan, mengapa aku baru mengerti sekarang. Mengapa aku tidak mencari tahu tentang itu. Mengapa ia tidak lekas saja memberi tahu masalah itu. Warung Bu Jariyah semakin lengang. Hanya ada aku. Ada Isak. Ada Tiara. Ada angin yang masih akan berhembus. Ada petir yang masih akan menggelegar
Dan gelas yang ia maksud itu…
*****
Di suatu subuh yang hening. Di antara derit pohon bambu dan udara yang membuat tubuh membeku. Beban itu ternyata adalah saat nyawa tak lagi bisa menikmati dunia. Tujuh hari sebelum perbincanganku dengan Isak, dalam sebuah rumah, di sebuah desa, Sukmidjah, ibunda Isak menghela nafas terakhir. Sakit yang menggerogoti alat-alat tubuh Sukmidjah sudah tak lagi mampu menahan beban hidupnya. Ia hanya meninggalkan pesan seperti yang kudengar dari mulut Isak yang kelu gemetar, “Ibuku bilang sebelum meninggalkan kami, agar aku harus menyelesaikan kuliahku kalau aku mau buat ibuku senang di alam sana dan memintaku menjaga ketiga adikku, membahagiakannya…”
Sejak seseorang yang seharusnya menjadi kepala keluarga pergi entah kemana, Isak harus menahan beban yang patah dari langit itu sendirian. Hanya sendiri.
Bayangkan saja, beban itu tak pernah sekalipun ia tunjukan pada siapa-siapa. Ia lepas. Ia simpan dalam gelas. Ia tutup rapat-rapat. Bahkan mungkin tak pernah ia bawa ke mana-mana. Tapi, ia tak bisa menyembunyikan beban itu dari dirinya sendiri meski bisa saja ia tinggalkan kapan pun ia mau seperti yang ia katakan padaku. Tentang gelas itu.
****
2008-2010
dedicated for dany ibrahim







