Hanya dirimu sendiri murid setiamu. Semua yang lain satu demi satu pergi meninggalkan engkau. Itu kalimat Rumi yang kutemukan tadi pagi. Aku menemukannya dalam rak buku paman yang hampir usang. Di sebuah pagi yang pecah. Di separuh waktu yang kacau.
Hari kelima belas bulan Agustus. Aku masih saja dalam keadaan yang tak berubah dari hari-hari sebelumnya. Bangun pagi dan menemukan buku-buku berserakan habis ditelan waktu. Keluar kamar setelah bersetubuh semalaman dengan mimpi dan fantasi yang terus saja menyiksa. Aku semakin didera malas yang luar biasa. Melihat nenek yang sedang duduk di dipan sambil menggumam ayat-ayat Qur’an. Menahan lapar dan haus yang sesungguhnya hanya menunggu gema azan maghrib dari masjid pesantren sebelah rumah. Nenekku terbiasa shaum senin kamis.
Cikaret masih rikuh berselimut kabut. Kampung ini begitu anggun dengan cuaca dingin dan aroma perkebunan teh, tiga kilometer menuju Goalpara, di mana lautan dedaun teh bisa kau pandang sepuasnya.
Pagi itu ponselku berdering. Lamat-lamat kudengar suara Pak Rahmat memintaku untuk meliput seorang anak ajaib yang mampu melukis dalam tempo kurang dari lima menit. Bocah kecil itu bahkan telah menyelesaikan hampir dua ribu karya lukis dalam usia empat tahun. Lukisan yang tak diragukan orisinilitas kekanak-kanakannya. Setiap orang yang melihat karyanya, mau tidak mau ia akan masuk dalam dunia anak-anak usia bawah lima tahun. “Kalau kau ingin tau isi kepala anak-anak, maka lihatlah lukisannya,” ujar seorang penikmat seni yang takjub menyaksikan lukisan karya anak kecil itu.
Salsabila. Pagi itu aku langsung menuju kediamannya di kecamatan Citamiang, sebelah kidul kota Sukabumi sebagaimana yang ditugaskan Pak Rahmat, pemimpin redaksi tempat dimana aku bekerja sebagai wartawan koran lokal. Tepatnya wartawan lepas. Memang sejak awal aku sudah ditawari menjadi wartawan tetap di koran itu. Tapi aku menolak. Aku tak mau terikat. Lagi pula aku hanya ingin menulis hal-hal tentang kesenian dan kebudayaan.
Pak Rahmat sebagai pemimpin redaksi mengakui kalau korannya sangat membutuhkan wartawan yang memiliki kemampuan dalam menulis tentang seni dan budaya. Ia tahu aku punya kemampuan di bidang itu karena tulisan-tulisanku kerap muncul di halaman budaya yang ia asuh. Oleh karenanya ia sangat mendesakku untuk menjadi bagian dari medianya.
“Ayolah, aku tahu kau punya wawasan lebih dalam hal seni budaya. Koran ini sangat membutuhkan orang sepertimu,” ujarnya suatu hari, penuh harap padaku. Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar menolak. Hingga akhirnya aku bersedia menerima tawarannya namun dengan syarat hanya sebagai wartawan lepas saja. Aku sedang tak ingin sibuk dengan urusan yang sangat memperbudak hidupku.
Aku telah bertekad, kedatanganku ke Cikaret hanya ingin mengasingkan diri dari penat kehidupan kota Jakarta tempat tinggalku. Di Cikaret aku tinggal bersama nenek. Tempat dulu aku pernah dibesarkan saat kecil selama lima tahun.
Salsabila. Pelukis cilik yang punya kemampuan ajaib itu akhirnya benar-benar menarik gairahku untuk ingin tahu lebih dalam tentangnya, tentang lukisannya. Rumah tempat tinggalnya yang asri disihir menjadi Galeri Lukisan sekaligus. Bertemu dengannya, ia tak ubahnya anak-anak lain yang sedang menikmati masa-masanya senang bermain.
Perempuan cilik itu senyum padaku. Berhadapan denganku, ia masih malu-malu. Maka aku tak langsung banyak berbicara dengannya. Sedikit kucoba memancing komunikasi dengannya, namun ia malanh ngeloyor pergi menyambangi bundanya. Akhirnya aku lebih banyak berdiskusi dengan bundanya yang sangat familiar. Ia banyak menceritakan debut Salsabila dalam proses kreatifnya. “Pikiran anak kecil adalah kejujuran, maka imajinasi yang tertuang dalam gambarnya juga adalah sebuah pandangan yang jujur, apalagi ia masih balita,” ceritanya padaku. “Saya tidak pernah melarang Salsabila saat ia mewarnai gambar daun dengan warna abu-abu atau gambar kepala dengan warna biru. Bahkan tubuh manusia dengan warna hitam legam sekalipun,”
Bunda Salsabila pergi meninggalkanku. Tampaknya ia masih harus bergelut dengan aktivitas lain sebagai ibu rumah tangga.
Dan keanehan ajaib itu adalah perjalananku di sebuah ruangan hening. Dinding-dinding yang sepi. Aku masuk ke dalam dunia yang amat sunyi. Dunia yang sedang bermain dengan kisahnya sendiri.
Galeri itu. Aku melihatnya seperti mentertawakanku. Aku membayangkan Salsabila menggerakkan tangannya dengan pelan. Menggoreskan bayangan matanya. Menggariskan jari-jarinya.
Anak sekecil itu dengan mudahnya berbicara tentang kecarutmarutan dunia dalam bayangan matanya. Begitu mudahnya ia mengeluarkan isi hatinya. Sampai akhirnya aku berhenti pada lukisan manusia yang besar kepala. Ini serius, ia menggambar manusia itu dengan kepala yang besar. Tangannya panjang hingga melebihi kakinya sendiri. Perutnya gendut dengan gambar-gambar binatang di dalamnya.
Mataku tetap terpaku di depan lukisan itu lebih dari sepuluh menit. Kakiku tak mau beranjak. Bahkan aku sampai lupa kalau saat itu aku sedang liputan. Dan saat mataku berjarak sepuluh senti dari lukisan itu, tiba-tiba saja aku mendengar suara rintihan. Suara yang amat pedih. Suara yang keluar dari bingkai lukisan Salsabila.
“Tolong, tolong aku. Aku amat kesepian disini!”
“Mengapa kau kesepian. Bukankah kau bersama dengan lukisan-lukisan lain di galeri ini,”
“Memang aku tidak sendiri, aku berada di tempat yang aman, aku terlindungi, tapi aku telah keluar dari kebebasan duniaku saat masih berada dalam kepala Salsabila. Saat itu aku benar-benar bebas. Aku bisa berubah menjadi apa saja, menjadi siapa saja!”
“Hei, memang kau bisa bebas berada dalam benak Salsabila, tapi kau tak bisa membuatnya bahagia. Kau rela melihat rumahmu menjadi asing terhadapmu karena ia tak mampu mengeluarkanmu dari kepalanya?”
“Tidak, aku tidak peduli. Sebab aku bukan hamba siapa-siapa. Tidak juga Salsabila!”
Gila. Ini gila. Baru kali ini aku menemukan sebuah lukisan yang protes terhadap pelukisnya. Saat aku ingin melanjutkan percakapanku dengan lukisan Salsabila itu, mulailah ada beberapa orang yang datang melihat-lihat lukisan Salsabila. Sekejap saja tak ada lagi suara yang kudengar dari lukisan itu. Ia tiba-tiba diam bungkam. Mengapa ia hanya bicara padaku. Atau ada orang lain sebelumku yang memang pernah berkomunikasi dengan lukisan Salsabila itu. Ah, entahlah.
Aku langsung mengambil beberapa gambar menarik dengan kamera digital. Aku mengitari sekeliling rumah Salsabila. Ada juga beberapa wartawan lain yang sedang ngobrol di pendopo rumah Salsabila. Tapi aku memilih pergi. Sepertinya ada banyak hal menarik yang bisa kutulis, termasuk percakapanku tadi. Walau sepertinya orang-orang akan mengganggapku gila, termasuk Pak Rahmat.
Selama aku tak mengaku menjadi nabi, ini bukanlah peristiwa mistis yang akan menjadi sesat. Namun bayangan anggapan orang akan kemustahilan ini selalu menghantuiku: berdialog dengan benda mati yang tak lahir sebagaimana makhluk hidup lahir dari rahim induknya. Kalaupun aku mau berkilah, bisa saja aku mengatakan tengah berdialog dengan diriku sendiri.
Oh Salsabila, apa sebenarnya yang telah membuatku gila.
Samar-samar aku teringat kalimat Rumi yang kutemukan tadi pagi: semua yang lain satu demi satu pergi meninggalkan engkau. Hanya dirimu sendiri murid setiamu.
****
Pukul enam menjelang maghrib, sebulan setelah aku meliput Salsabila, sang pelukis cilik. Ponselku berdering. Aku malas mengangkat. Sejak pagi badanku meriang. Dua hari kemarin tubuhku diporsir meliput acara kebudayaan daerah di sebuah pedalaman kampung di Kabupaten Sukabumi. Dan saat ini aku hanya ingin terbaring. Kepalaku seperti mau pecah. Bagaimana tidak, dua hari liputan kemarin kondisi badanku sudah tidak sehat, tapi bagaimana lagi, saat itu aku sedang butuh uang. Maka mau tidak mau aku terima saja tawaran Pak Rahmat untuk liputan.
Setelah tiga kali miscall, bunyi pesan pendek berdering. Kubuka isi pesan dalam ponselku. Tiba-tiba, kepalaku seperti makin berputar. Otakku memaksa untuk berpikir keras. Isi pesan itu dari Pak Rahmat yang mengabarkan peristiwa yang sedang terjadi. Warga Citamiang dikejutkan dengan salah satu lukisan Salsabila yang tiba-tiba hidup dan bergerak masuk ke dalam kepala Salsabila.
Gila. Ini benar-benar gila. Sontak saja ada energi dalam tubuhku untuk bangkit dan bergerak meliput ke tempat kejadian perkara. Saat-saat itu aku seperti tak lagi memikirkan sakit meriangku. Motor kuhidupkan dan langsung meluncur ke rumah Salsabila.
Beberapa warga berkerumun di depan pagar rumah Salsabila. Banyak yang bilang Salsabila kerasukan setan. Aku mencoba masuk ke dalam rumah. Warga sengaja berkerumun di depan pagar karena tak berani masuk ke dalam. “Saya takut setannya pindah kang,”
Aku mendekati Galeri. Disana ada beberapa wartawan juga. Bunda Salsabila tampak panik. Ayahnya berusaha menjaga jarak dengan Salsabila. Pelan-pelan kulihat lukisan yang menjurai ke udara. Goresan-goresan pena yang meluntur, warna-warna yang bercucuran, aku bisa pastikan ternyata itu lukisan yang pernah berdialog denganku dua tahun lalu. Gambar manusia berkepala besar, tangan yang panjang melebihi kaki dan gambar perut yang berisi binatang-binatang. Ajaib.
Aku tak boleh sia-siakan peristiwa ini. Kukeluarkan kamera digital milikku. Kulayangkan kamera pada peristiwa-peristiwa yang kuanggap menarik. Gila, lukisan itu melayang-layang keluar dari bingkainya. Dan Salsabila duduk tepat di bawah bingkai lukisan itu. Ia tertidur.
Sekerjap aku pun teringat akan dialog tempo hari dengan lukisan itu. Ia hanya ingin bersemayam dalam kepala salsabila karena menginginkan kebebasan. Apakah mungkin karena itu kali ini ia beranjak dari bingkai lukisan dan hijrah menuju kepala Salsabila.
Disaksikan beberapa pasang mata kamera, Salsabila kemudian bangun. Ia menahan silau saat cahaya kamera wartawan menikam wajahnya yang baru saja sadar dari kematian sementara itu.
Sejenak ia menatap bundanya, “Bunda, aku mau pensil gambar,”
“Iya sayang, bunda ambilkan ya,”
“Cepat ya, bun.”
Gambar di atas kertas lukisan yang tadi masuk benar-benar hilang. Kertas itu putih bersih. Ini sungguh ajaib. Segera saja Salsabila mengambil kertas lukisan tersebut kemudian menggoreskan pensilnya di atas kertas yang telah bersih itu. Sinaran mata kamera kembali menerjang Salsabila. Ia tampak asyik menggambar. Imajinasi anak kecil adalah pandangan kejujuran.
Aku dan para wartawan tercengang melihatnya menggambar manusia berkepala kemaluan laki-laki, perutnya sangat besar berisi darah dan tangannya tetap panjang melebihi kaki namun sekarang lebih berbentuk seperti kalung-kalung tasbih. Kakinya seperti kaki anjing. Kali ini lukisan itu bebas berkeliaran, menggonggong, mengaum ke kota-kota, ke gedung besar, menakut-nakuti warga sekitar dan memperkosa anak kecil. Ia tak lagi kesepian di galeri sepi yang hening. Sesekali ia mampir ke dalam mimpi seseorang. Setelah menyaksikan kejadian itu, aku dan para wartawan beranjak pergi. Keesokan harinya semua koran tidak memberitakan apa-apa. Seperti tak ada peristiwa apa-apa.
Kemudian, seperti kata Rumi, semua muncul saat dimana semuanya hening diam, seperti hujan deras yang berhenti total. Pepohonan di kebun buah perlahan menguap.
September, 2009







