MENENGGAK SAJAK
kau terus mendesakku menciptakan lagi sajak sajak baru dari curug airmata
yang tak henti hentinya menetes di bebatuan. lalu daratan menciptakan lubang
untuk kau gunakan sebagai keranjang sampah bekas perjalanan.
lembar lembar sajak. gelas gelas kalimat. serta onggokan kata berjejalan di kepalaku
menciptakan dunianya sendiri. kita tidak sedang bermain, bukan.
sebab semestinya malam ini kita berjalan iring iringan menuju tanah lapang yang luas.
di sana kita bisa menikmati waktu. beristirahat. menyeduh kopi. meneguknya. menyicikan anggur. menenggaknya. menyulut rokok. menghisapnya.
membaringkan tubuh. menguburnya.
depok, 13 Juli 2010
MENENGGAK SAJAK, 2
–agar besok malam kita menulis puisi lebih panjang
tubuhmu bersarang di doa doa
menyelinap ke bukit bukit
malam membangun kesunyiannya sendirian
sementara aku masih saja berkutat
dengan laut dan pohonan
puisi demi puisi tak selesai kutulis setiap malam
beberapa prosa panjang hanya sembunyi
di laci lemari pakaian
lalu apa gunanya sunyisepi sendirian
kalau besok kita mati kelaparan!
tapi daripada kita mati sunyi sendirian
lebih baik kita menulis doa doa
agar besok malam kita bisa menulis puisi
lebih panjang!
2010
padahal sajak kita tak pernah diam
aku turun ke bumi
kemudian rindu lagi
menghantam langit
di jalanan tak ada apa apa
hanya tanah basah
dan genangan hujan
yang tak mengerti duka kita
padahal sajak kita tak pernah diam
menulis lagi banyak kecemasan
di jalan jalan di malam malam
melewati batas jam dan kematian
hingga subuh terus tenggelam
dan kita terus saja mencatat
seberapa jauh jarak jalan
yang mengukuhkanku dan kau
sebagai pengelana perengkuh bulan
walau di bulan kita tetap saja diam
dan tak mengerti seberapa besar luka bumi
merintih tiap hari tiap malam
cibiru, 2010







