perasaan perasaan akan kukubur sebagai batu yang kelak hancur dipukul palu di atas bis dan demi baju baju, celana, handuk yang tergantung di palang pintu akan kubaringkan remuk tubuhku ini dalam kesunyian kamar yang kekal tanpa berisik persoalan atas nama kertas kertas yang tercecer di lantai di meja di kasur di got depan kontrakan yang [...]
RUMAH 1/ lagi-lagi aku dengar nyanyi azan. bagai katup bunga. menutup dan enggan terbuka 2/ pada sebelum maghrib telah kita temui bulan tak sampai purnama. sesuatu dalam tubuh kita kelak menyimpan cahaya 3/ aku mencium harum bunga pada detik ketika maut begitu dekat. doa hanya serupa omong kosong. mirip pembicaraan seseorang dengan kenangan 4/ ada [...]
dengan tangan mungilmu itu dengan tangan mungilmu itu kau ajak aku mengunjungi setiap bingkai kepalamu kau antar aku pada setiap keheningan baru dunia yang bisa membuat kau dan aku tersenyum hanya dengan menelusuri lekuk sudut bingkai kepalamu gambar-gambar manusia aneh, jari jari tangan tak utuh, kepala manusia berjumpalitan, senyum bibir yang jatuh dan warna biru [...]
airmata pujangga tangisilah airmata yang tak meleleh ketika kau melempar jiwa ke dalam neraka pulang dari kesulitan kau hampir saja memeluk tuhan tapi kenapa kau jatuhkan tangisilah airmata sekarang juga segera setelah Allahuakbar memanggilmu untuk membasuh muka agar diammu tak selalu kekal, pujangga! 2008 weekend tak selalu malam minggu langit dan bulan menjaga cengkrama [...]
MENENGGAK SAJAK kau terus mendesakku menciptakan lagi sajak sajak baru dari curug airmata yang tak henti hentinya menetes di bebatuan. lalu daratan menciptakan lubang untuk kau gunakan sebagai keranjang sampah bekas perjalanan. lembar lembar sajak. gelas gelas kalimat. serta onggokan kata berjejalan di kepalaku menciptakan dunianya sendiri. kita tidak sedang bermain, bukan. sebab semestinya malam [...]
Aku seperti melihat langit itu biru kelabu. Pucat pudar dalam dekapan awan. Gagak-gagak hitam beterbangan. Dari barat ke selatan. Selatan ke timur. Lalu utara. Dan akhirnya singgah di jendela rumahku, mengendus sesuatu serupa kematian. Siapa lagikah yang akan kaukirimi surat, Antonio. Beratus-ratus halaman kautulis, namun tak kunjung kau menerima balasannya juga. Sejak datang dari pesisir [...]
maha samudera desember akan kukembalikan desember yang pernah kaupinjamkan tempo dulu saat kita menjarah bulan di tepi pantai yang arahnya tak tentu dari selatan ke timur tak habis habis kita memuja maha samudera padahal dada kita lebih lautan membentang layar, menantang gelombang sementara kita terus mencatat badai demi badai yang menabrak dinding perahu hingga kandas [...]
sebuah sajak dan rahasia pertemuan -iwa & mas aziz biarlah nanti pada akhirnya nasib yang mempertautkan tangan kita setelah malam tiba di akhir baris kalimat ini akan tertera pertemuan yang tak pernah kita perkirakan sebab di hari itu di usia malam yang setengah muda bangku bangku taman tak lagi menggelora daun daun luruh udara malam [...]
PINOLA SUAKO –bagi wa ode wulan ratna Johra, biarlah aku menyertaimu bukan sebagai Run yang mengajakmu pergi lalu menghabisimu satu malam saja. sejak malam pauncura itu menyekapmu, melafalkan doa doa, lalu memandikanmu dengan wangi cempaka sejak itu pula aku senantiasa setia mengendus harum tanah, melacak jejak purnama agar kita bebas sembunyi dari kutukan para bhisa, [...]
–haryanah sebelumnya aku tak mungkin menulis perasaan yang paling dingin dengan tangan ditembus hujan. daun-daun pun tak bisa kujadikan kertas. namun malam itu, dengan hati paling gerimis tiba-tiba tubuhku menyala, bulan yang tadinya pucat tiba-tiba purnama. dahan rasamala yang merimbun di sepanjang lereng kemudian rubuh. aku bagai hendak melumat bibirmu dan mengekalkannya di lereng ini. [...]