Arsip Kategori: catatan ringan

KITAB HUJAN

Baca Ulasan Bukunya di sini

Catatan Empat Pertemuan (Ahda Imran)

  Catatan Empat Pertemuan* (Ari Syakir, Johan Khoirul Zaman, Restu A Putra, Semmy Ikra Anggara) oleh Ahda Imran PERTEMUAN saya dengan Ari Syakir adalah sekaligus perkenalan saya dengan Chico Mendez, seperti mengemuka dalam sajaknya yang pertama “Epitaf Untuk Chico Mendez”. Saya merasa tidak perlu malu untuk mengatakan bahwa saya sebelumnya saya belum pernah mengenal nama [...]

epilogue

Sebab kita selalu diingatkan dengan percakapan-percakapan yang tak pernah bertemu. Seperti utara dan selatan. Di bangku taman itu kita bertemu lagi dengan percakapan-percakapan masa silam yang melahirkan banyak kenangan. Seperti utara yang berjalan ke selatan. Sampai akihirnya kita dikelilingi kenangan-kenangan yang membuat kita sekarang luka mendalam. Karena kita tak tahu lagi ke mana arah berjalan. [...]

A dialogue inter-intrapersonal: sebab kita terlahir sebagai manusia

Selalu saja kau sodorkan aku dengan buku-buku filsafat. Atau sesekali dengan cerita-cerita filosofis yang sulit sekali kumengerti. Siang atau malam selalu saja dunia filsafatmu masuk ke telingaku dan mendekam sebentar dalam relung fikirku. “Ketika kita dengar suara Oedipus dengan pedih mengerang, ketika ia merangkak meninggalkan istana, apa sebenarnya yang kita dengarkan?” kau mengeja kalimat itu [...]

Sebab Puisi, Akhirnya Aku dan Sastra Berhubungan

Aku dan sastra? Awalnya tidak ada hubungan apa-apa. Hanya teman biasa, teman  berbagi. Ia pelarianku. Sejak beberapa masalah cukup menggangguku. Banyak problem bergulat dalam batin. Hidupku dikejar masalah-masalah pelik. Dan aku butuh seorang saja tempat jiwaku bisa mencurahkan segenap resah gelisah. Sedikit orang yang bisa memahami jiwaku. Ternyata yang aku miliki hanya buku catatan. Terus [...]

Harapan

Kalau saja Tuhan masih memberi kita anugerah kehidupan, maka masih ada kesempatan untuk dilakukan meraih harapan. Namun sayang kebanyakan kita hanya lengah akan hal ini. Wajar karena kita manusia yang dianugerahi juga dengan kelemahan. -renosta-

sebenarnya…

Pandangan mata itu selalu dusta. Seperti dusta kala kau tatap bintang yang kecil berkilau-kilau. Raga itu selalu dusta. Seperti dusta kala tawa selalu mewakili duka yang berkelebat dalam jiwa. Marah itu selalu dusta. Seperti dusta kala kecewa ingin selalu tertutupi. Kutak percaya lagi dengan cinta dan kasih sayang. Sejak lama kutunggu dan kucari tapi selalu [...]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.