sehabis dari manggarai

mulai malam ini
aku belajar menulis surat
undangan kematian
dan mengirimnya pada rumah,
gubuk-gubuk pinggir jalan,
pada lelaki renta
dan tongkatnya yang tua
mungkin nasib semacam angin malam
yang riuh dan berisik mengepakkan sayapnya
menabrak kaleng,
mengetuk tiang-tiang,
kemudian mengganggu tidur
para sopir di terminal
sedang jarum jam bagai kopi hitam
yang selalu membuat mata
tegang dan terjaga
sementara aku
kembali lagi belajar
mengirim undangan
khusus kepada ibu
yang sedang merebus batu
yang tertawa senyum-senyum
dengan bahagia
memerhatikan anak semata wayangnya
melilitkan tali di lehernya
lalu dengan penuh damai
mereka merayakan
makan malam bersama
tanpa lagu-lagu, tanpa nyanyian
dikelilingi anjing-anjing liar
yang lapar. matanya bengis.
mungkin nasib semacam angin malam
yang menendang kardus-kardus
menerbangkan koran-koran
mengapungkan harapan

2011

tentang sajak muram yang hilang di hilir sungai

dan ricik air mengantarkan ceritanya padaku
sebuah sajak muram yang hilang di hilir sungai di seberang pulau
di sore yang mendung sebelum gerimis hujan
walau bagaimana pun, walau langit murung, aku harus membacakannya
untukmu, sajak-sajak itu:

/beberapa larik untuk kau yang mendung di sore hari

wajahku dibelai belai angin
dan rambutku bergoyang sendiri
tapi tanganku tetap kaku menuliskan airmata
untuk kuhadiahkan
kepadamu
padahal waktu sebentar lagi padam
dan cahaya senja segera tenggelam
haruskah aku
membongkar airmataku sendiri
untuk kuhadiahkan
padamu
agar kau bisa percaya
bahwa aku telah tiada dari tempatmu berdiri
seperti kau melihat maut
menikamku
puluhantahunlalu

sementara langit terus mengirim gerimis
dan angin semakin mengumbar badai
—dari ujung jalan itu tubuhku koyak
kemudian rubuh!

/puisi yang lahir dari airmatamu
–culaiha

dari tanganku tak saja lahir puisi
tapi juga airmata dan beberapa luka
karena dari depok ke kalibata
aku meninggalkan engkau
dengan tubuh derita
–lampu lampu padam
cahaya bulan pudar
dengan kesendirian dan tubuh gemetar
aku terlunta menyusuri sudut malam
pintu pintu stasiun
dari gerbong ke gerbong
puisiku lahir, airmataku lahir
kertas kertas beterbangan
mereka berjalan-jalan sendiri mencarimu
menemuimu di tengah kota, tengah terluka
sedang menatap bulan
dengan mata gerimis
dan hujan
sementara dari tanganku,
lahirlah engkau
memanggil manggil namaku
berulang-ulang, bersahutan
dengan suara senyap ditelan udara malam
kemudian hilang

/sajak yang akhirnya hanyut di alir sungai

aku hanya menjadi bayang bayang
puing puing tubuhmu yang hancur digilas malam
berantakan
ingin rasanya membentangkan tangan
kemudian memeluk angin
mencium bau rumputan
menghirup harum gunung
memandang pohon pohon
yang gemetar digoyang semilir

ingin rasanya memburai burai tangis
ke dalam lautan yang mengalir dari hilir hilir
sungai
sampai aku benar benar bisa melihat wajahmu
dari warna pelangi yang benderang
dari genangan air yang mengucur ke lembah lembah
airmatamu
lalu tersenyum padaku

ingin rasanya aku berputar putar membentuk telaga
menjadikannya muara setiap kesedihanmu
menjadikannya gerak daun daun dan ranting di bukit jauh itu
menjadi milikmu
hingga jikalau daun daun dan ranting pohon itu jatuh
ke arus sungai yang mengalir dari hilir hilir bukitmu
maka aku akan terbawa hanyut ke dalam alir sungai kesedihanmu
yang pedih dan dalam.

2010

seperti pertama kali menulis sajak

aku mengingatmu bagai sakit kepala
seperti menulis puisi di malam buta
memikirkan arah kata, merapikan persoalan
dengan dada bagai malam larut, mata setengah terpejam
dan kepala terus berdenyut

lalu bagaimana aku bisa melupakanmu
kalau kematian pasti datang
dan membayangkanmu seumpama maut?

di sini, di sisa kopi yang tinggal seteguk
aku membayangkanmu seolah olah
tepat di hadapanku
menceritakan tanah kelahiran, mengisahkan asal muasal
padahal masalalu hanya perihal waktu

kepalaku lagi lagi seperti ditikam jam
seperti mengulang keberangkatan
aku merapikan baju, membetulkan tali sepatu
lalu berdiri melihat dunia seperti masa kanak kanak
seperti pertama kali aku menulis sajak

maret 2011

buku buku yang telungkup di sudut kamar

sedang apa kau terpekur di pojok situ
bertumpuk tumpuk kau memandangku
tapi tak jua aku sanggup menggapaimu
aku selalu merasa sia sia meski kerap kau datang
menghampiri kepalaku, wahai buku buku yang
terbaring di sudut kamar.

kalau mampu kubaca arah kata katamu
tentu aku mengerti ke mana arah jalan ini
namun tidak untuk saat sekarang sebab
urat lambungku kian menegang. tangan
kakiku benar benar gemetar
bagaimana caranya memanggul matahari
dengan buku buku yang kulahap setiap hari.

ohoi, buku buku yang terbaring di sudut kamar
maaf kau selalu kujadikan alas kepalaku
yang berat penuh beban beban
semisal nasib, takdir,
beberapa rencana yang tak selesai
lalu
gagal.

kamarkosancibiru, februari 2011

sembilan sajak kepada rumput (balada orang-orang tercinta, 2)

/dua sajak sederhana untuk dua perempuan penyuka hujan

 

tentang perempuan yang selalu hilang dan kembali

-nabil “kecil”

 

nabila, sudah jam sembilan malam

saatnya matamu terpejam!

 

aku selalu lupa bagaimana caranya

membuatmu kembali. membuatmu ada.

membuatmu tak hilang lagi, nabila.

dan aku selalu membayangkanmu sendirian

menelusup ke kerumunan orang. menyaksikan orang orang

berganti wajah. berganti rupa. membuntuti seekor kupu kupu

yang terbang ke sana kemari.

aku selalu lupa bagaimana caranya membuatmu kembali, nabila.

yang selalu pergi tanpa pernah sepatah kabar kudengar

di beberapa tempat, di perjalanan, Braga, Mangga,

Gedung Indonesia Menggugat

dan di setiap pertemuan. aku merasa kamu selalu hilang,

padahal kamu ada. aku hanya takut kamu kehujanan, nabila

walau aku tahu kamu sangat mencintai hujan.  sangat.

 

cibiru, februari 2011

 

 

mari kita bermain hujan, fitria

-miss beloved fitria

 

ini kali keduanya, ternyata kamu suka hujan juga, fitira

kita menyusuri hutan dan alang alang

dan sejak itu aku merasa kamu benar benar gembira seandainya tubuhmu

basah. begitu basah. saat air turun pelan pelan. dan wajahmu

tampak terlihat menawan. sangat menawan. melebihi hasratku untuk selalu

memanggilmu grandma!

sudahlah fitria, kita masih sama sama muda

mari kita bersenang senang bermain hujan

membiarkan tubuh kita telanjang  dan basah dicumbui derai hujan

hingga tubuhmu lepas ditembus bintik bintik hujan. dan tanganku tak lepas lepas

menggenggammu di kedua tangan.

sebab aku tak merasakan segar di kamarmu yang hanya

sampai jam sembilan malam.

mari, keluarlah! keluarlah, fitria! kita bermain hujan.

setelah itu kamu bebas menuliskan apa saja pada lembar lembar cerita

yang tak melulu soal cinta. mungkin kita.

tentang hujan kita.

 

cibiru, februari 2011

 

 

 

 

/tiga sajak untuk tiga tanda tanya

 

apakah kamu L?

-Lukita Octavia

 

aku kira kamu L  yang ada dalam film death note itu

berani beraninya melawan  dewa kematian.  aku kira kamu L itu.

yang selalu dingin. yang tak banyak bicara. tapi otakmu selalu bekerja keras

memecahkan segala kasus permasalahan dengan sempurna. aku kira kamu L itu.

tapi ternyata bukan.  aku salah. sebab aku selalu melihatmu diam. tapi lagi lagi

aku salah.

kamu adalah L yang hanya ingin mencoba segalanya. segalanya.

dan menumpahkan segala yang terpendam dari laut hatimu

yang paling dalam.

lalu sepertinya

kali ini aku (tak) salah. kamu L itu. yang sedang mencoba

meraba raba hidup.

 

Cibiru, februari 2011

 

*death note adalah film berdasarkan serial manga Jepang yang ditulis oleh Tsugumi Ohba tentang pertarungan Light Yagami yang menemukan “catatan maut” dewa kematian dan mengacaukan dunia bertarung kecerdasan melawan L  atau Lawliet (yang kemudian dikenal dengan nama ryuzaki), seorang detektif profesional muda bertaraf internasional yang hanya bergerak di belakang layar. L memiliki kepribadian yang unik sekaligus misterius, menyukai permen dan segala yang manis-manis. Pendiam namun jeli dan jenius. dalam versi layar lebarnya, Death Note dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Death Note, Death Note: The Last Name, dan Death Note: L Change The World.

 

 

 

benarkah kau ingin menulis esai, maulida?

-maulida althafunnisa

 

dengan sedikit agak malu malu

dia datang kepadaku mengantarkan

lapis lembar tulisannya

dan tentu saja aku masih mengenal

senyum itu. seminggu lalu dia datang dengan hal yang sama

kak, bagaimana caranya membuat esai?

lalu tiba tiba aku melihat di kepalanya

tumbuh akar pohonan, biji-bijian,

tunas tunas tanaman. buah buahan yang

kemudian rindang.

aku lihat pula tulisannya tumbuh dan terus tumbuh.

bercabang.

bagaimana bisa, kataku. tentu bisa, berminggu minggu sudah

aku mengeramnya, katamu.

 

Cibiru, februari 2011

 

kepada perempuan seperguruan, kau kah itu?

-raneerun desu

 

bagaimana bunyi suara jaros di tempatmu, ran

apakah juga bersuara man jadda wajada?

cibiru, februari 2011

*Jaros: istilah bahasa arab yang bermakna lonceng. alat ini biasanya dipakai di beberapa pesantren, seperti pondok gontor, sebagai tanda waktu setiap aktivitas baru.

*Man jadda wajada: (peribahasa arab) barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka dia dapatlah ia.

 

/empat sajak pendek untuk empat abah

 

backpack

-abah hadi

 

beri aku peta

agar usiaku

(tampak) lebih muda

 

Cibiru, februari 2011

 

kemeja

-kak moel

 

aku (belum) gagal jadi tukang pajak

apalagi penulis sajak

 

cibiru, februari 2011

 

astrada

-haryoko sani wiguna

 

yok, kapan kita mabuk puisi lagi

sebelum film filmmu berakhir

dan aku jatuh cinta pada salah satu adegannya

 

cibiru, februari 2011

 

 

mistis

-ang furkon

 

tanpa sengaja kita pernah

menjadi autis bersama

 

cibiru, februari 2011



jejak jejak, 1

ingin tergabung di allah
tapi aku makin aku
darahku mengalir
dan terpental
menjadi tanah
menjadi abu

allahku makin allah
sedang aku makin aku
makin tanah makin abu

tak juga kugapai gapai
ENGKAU

januari 2011

di negeri ini, negeri puisi

hidup begitu panjang
di negeri ini, di negeri puisi
setiap anak bebas bertanya
dan mencari jawab sendiri sendiri
tanpa harus takut
seorang ayah atau ibu mengurungnya
di kamar mandi
dan hidup begitu panjang
di negeri ini, di negeri puisi
kita bisa mengucap cinta
pada siapa saja. bisa menyayangi
siapa saja. membiarkan hidup kita terberai
dan hanyut oleh senyum tawa seorang kekasih
atau perempuan yang sengaja
tak kita cintai.
hidup semakin panjang
usia kita memanjang dari cerita cerita
seputar kegelisahan. tentang sakit dan nyeri
di negeri ini, di negeri puisi
kau dan aku
sepertinya sedang sama berjalan
pada perjalanan yang panjang
kaki kita memanjang
tak berbatas
tak bertepi
tanpa mengenal akhir
lalu kita seperti anak kecil
yang saling bertanya, saling menyanggah,
dan mencari jawab
tanpa harus takut siapa pun akan mengurung kita
di negeri ini
negeri puisi

januari 2011

siapa yang masuk ke dalam sajakku?

seorang lelaki pecinta anggur dan perempuan mabuk masuk
ke dalam sajakku dengan wajah serupa burung dan tubuh
hendak terbang. mereka melepaskan pakaian dan melepaskan
segala yang melekat di (dalam) dada. sebab hidup hanyalah
permainan. mereka bermain main dan tertawa lebar lebar
seakan dunia seperti kata kata yang bebas diputarbalikkan
padahal mereka tahu mereka bukanlah penyair

yang mereka tahu hanyalah buih dalam gelas
dan malam terbaring di tepi kolam seumpama kertas
kosong tak berbekas

kini baris akhir sajakku semakin kabur
dan buram. sebab seorang lelaki pecinta anggur
dan perempuan mabuk itu telah karam di tepi jalan
dibuang orang begitu saja. tak berarti apa apa.
sedang sajakku senantiasa diagung agungkan

januari 2011

tersebab pranita

kalau kalau
-tersebab pranita*

kalau malam ini
dengan sengaja
kau menitahku
untuk berpuisi
maka perkenankan
kepalaku kaupecah
di tujuh arah
agar setiap arah
bisa kupendam sajak
yang tak selesai
dan menjadikannya kekal
di hatimu saja. di hatimu saja!

2011

*pranita dewi

sajak akhir tahun, 1

kredo akhir tahun, aku melepas pulang puisi

wahai desemberku yang seksi
aku serahkan sajakku
ke lenganmu yang terbuka
segala kenangan
segala pedih derita
sisa sisa perjalanan
harus aku kembalikan
dan sebaiknya kukembalikan
pada dadamu yang maha lautan
agar kita bisa benar benar lapang
menyambut januari tanpa sedikit kecemasan
malam yang tetap saja gelap
daun yang selalu jatuh ke tanah
dan kita yang sama sama
tidur terlentang dengan dada penuh
kalimat

hingga aku menemuimu kembali
di penghujung waktu nanti
dan benar benar erat
mendekap
menggempur
mencakar kesunyian bertubi tubi
sebab desember tetap saja desember
serupa januari yang membuat
dingin tanganku lumpuh
dari menulis puisi!

sebaiknya aku catat sebait puisimu di sini
di selembar malam yang kosong dan sunyi
sambil kita dengar ringkik jangkrik bernyanyi
dan wajah bulan runtuh
di sepanjang jalan
hidup memang siang dan malam
tapi rindu selalu pada bulan

wahai desemberku yang cantik yang puisi
izinkan aku menuliskan sedikit senyuman
untuk diriku sendiri
dan membiarkanmu pergi
tanpa membuatku merasa rindu
dan kehilangan

27 desember 2010

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.