SAJAK YANG KUTULIS HINGGA MALAM-MALAM AKU SAKIT

SAJAK YANG KUTULIS HINGGA MALAM-MALAM AKU SAKIT
-bagi delia

kusebut getar, tapi bukan kau
yang terbaring di kepalaku
yang berjajar dalam ingatan
mirip letus peluru
gerakan-gerakan perasaan
seumpama lilin
menyala dalam sepi

apa yang kau kehendaki dari tangan
sakitku ini, dari selimut musim dingin, drama larut malam,
makan malam terakhir, ciuman yang tak selesai?

gigil dingin ataukah nyala api?

haruskah aku menanti keraguan-keraguan, pelukan-pelukan, yang mungkin sengaja kau biarkan aku dalam terungku takdir. atau ke dalam tubuhku yang menggigil ini, haruskah bulan kutumpahkan dalam jarak perasaan-perasaan
yang seharusnya engkau dekatkan?

baiklah mari kita hantam serigala nasib, jerit ajal yang berisik, yang mengacaukan segala kehendak.
karena engkau seharusnya percaya, di kamar yang remang ini
bahterakulah yang melaju kepadamu, bukan pada tepi yang lain, atau sepi yang asing.

namun harus kuakui dongeng ini mesti berakhir. selimut harus kusingkap, dan kunci mesti kubuka.
mungkin aku bagai burung-burung
bagi kesakitan yang mesti kutanggung

2014

RUMAH

1/
lagi-lagi aku dengar
nyanyi azan. bagai katup
bunga. menutup, dan enggan
terbuka

2/
pada sebelum maghrib telah kita
temui bulan tak sampai purnama.
sesuatu dalam tubuh kita kelak
menyimpan cahaya

3/
aku mencium harum bunga
pada detik ketika maut
begitu dekat. doa hanya serupa
omong kosong. mirip pembicaraan
seseorang dengan kenangan

4/
ada baiknya kita rahasiakan
pertemuan yang mengunci
batin kita hingga menjadi kekal
waktu. dan perjumpaan bagai
ruh tak bertubuh.

5/
biarlah aku mengenali
wajahmu dalam rupa sepi.
kekosongan yang menyekap
kakiku sampai ke pintu
waktu. hingga

akhirnya kita sama-sama
mencari arah. yang orang-
orang tak pernah duga

6/
dan selalu saja sebagai puisi
aku tak dapat menjadi arang
yang bisa kau andalkan
sebagai api. yang menyala
yang membakar segenap

hasratku. tak habis-habisnya
tersungkur dalam seperempat
rindu. melebihi napasku yang
mendengus sebelum lampus.

7/
aku hanya perlu tempat
kembali. sesuatu yang
membuatku betah menjaga sunyi

2011

Belajar Bisnis dari Kisah Sumur Utsman bin Affan

DULU, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama :Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, “kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga”. Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.

Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, “aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya” Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.

Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun)

Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa?

Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.
Sebuah shadaqah yang tidak pernahhi berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.

Masya’ Allah. Semoga kita mendapat berkah Sayyidina Utsman. Amin allahumma shalli ‘ala syyidina Muhammad…

Sumber: Facebook Islamuna.info

Kepada Istriku di Tahun 2017

Istriku sudah resmi resign dari pekerjaannya hari ini. Itu artinya hari-hari ke depan ia hanya fokus pada mengurus rumah tangga, fokus pada anak, dan bisnis yang tadinya dikerjakan secara sambilan saat masih kerja kantoran.

Itu artinya lagi, memang sumber pemasukan pasti bagi keuangan keluarga hanya dariku saja sebagai suami. Aku tahu itu memang sudah kewajiban yang harus aku tanggung. Selama ini meski istri bergaji pada dasarnya itu hanya untuk kebutuhan dirinya walaupun akhirnya memang digunakan juga untuk membantu perekonomian keluarga.

Itu artinya lagi, aku memang harus sudah memantapkan diri untuk mengemudikan kapal keluarga ini dengan irama yang cantik. Akan aku bawa seperti apa kapal rumah tangga ini memang akan bergantung sepenuhnya pada diriku.

Termasuk membawa dan menciptakan iklim dalam rumah tangga yang bisa segera kembali membuat bergairah. Maklum, di akhir-akhir istri memutuskan untuk resign dari pekerjaan, banyak godaan yang datang menghembus untuk mengurungkan niatnya berhenti kerja.

Sejak kami menikah, istriku memang sudah bekerja kantoran. Dan aku memahami ritme kehidupan sehari-hari dengan suasana kantor akan jauh berbeda ketika kelak dia akan banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ada anak sih, tapi tetap saja akan ada adaptasi yang panjang dari proses dia biasanya di kantor hingga dia harus beraktivitas di rumah. Di sinilah peranku harus kumainkan. Kepemimpinanku harus diuji. Mampukah aku mengendalikan semua ini dengan cantik?

Banyak rencana memang dalam kepalaku jika istriku sudah tak lagi bekerja nanti. Ada yang sudah aku ungkapkan pada istri, ada juga yang belum dan biar aku saja yang menjalaninya, karena kalau aku banyak sesumbar juga belum tentu banyak dipercaya atau bahkan malah tidak kejadian. Jadi biar waktu saja yang membuktikan.

Salah satunya adalah membawa istri dan anakku dalam beragam aktivitas. Tahun 2017 memang tahun aku dambakan sebagai tahun silaturahim. Anggaplah itu resolusi. Aku sudah lama memendam dendam betapa keringnya aku dirasakan keberadaannya bagi keluarga besar, saudara, dan rekan-rekan sehingga membuat aku harus jemput bola untuk melakukan banyak silaturahim.

Aku ingin sowan ke banyak saudara, guru-guru (meski aku sama sekali belum pernah berguru yang sebenarnya kepada mereka), atau bahkan siapun yang memang harus aku kunjungi. Bergabung dengan komunitas-komunitas, mengadakan pertemuan-pertemuan, nimbrung dengan gatherin-gathering dalam perkumpulan positif.

Di sinilah keuntungannya di saat istri memang sudah tidak terikat lagi jam kerja. Aku bisa lebih leluasa. Beda dengan saat masih kerja sebelumnya, akhir pekan saja kadang memang lebih dibutuhkan untuk istirahat total di rumah ketimbang beraktivitas keluar.

Pasalnya, aku sendiri kebetulan memang masih diberkahi dengan pola kerja yang tidak mesti harus ke kantor. Kebijakan di tempat kerja yang mesti aku syukuri di tengah kekurangan-kekurangan lain yang ada.

Aku membayangkan bisa lifting dari bus ke bus, dari stasiun ke stasiun, menikmati perjalanan kereta yang sudah lama aku bayangkan.

Baiklah, setidaknya itulah sedikit gambaran yang aku bisa lakukan setelah istriku tak lagi bekerja kantoran.  Tinggal pintar-pintarnya aku memainkan peran ini dengan cantik.

Tapi begini, di usiaku jelan 31 tahun akhir tahun 2016 ini, tahun 2017 boleh dibilang bukan lagi tahun yang main-main buatku. Udah kepala tiga, bro. Sembilan tahun ke depan ini yang menjadi pertaruhanku akan menjadi apa nanti di usia 40. Dan itu dimulai dari rencana apa yang mesti aku capai di 2017.

Aku benar-benar sudah memikirkannya dengan amat keras. Ke depan boleh jadi jalan akan semakin sulit dan terjal. Tapi apakah aku harus membiarkan hidupku dan keluargaku jatuh?

Banyak percepatan-percepatan yang mesti aku raih. Paling tidak sanggupkah aku menjadi kendali atas kesulitan semuanya.

Pernah istriku mengutarakan hal yang memang menjadi alasan mengapa dia masih harus bekerja selama ini meski sudah aku suami yang harus memikul tanggung jawab memberi nafkah.

Adalah persoalan finansial. Istriku masih merasa belum yakin jika ia tidak bekerja kami akan hidup dalam kekurangan. Aku paham, itu sangat realistis. Dengan istri bekerja saja kadang kami kerap menghadapi momen terseok-seok hingga beberapa hari jelang gajian. Itu fakta.

Tapi dalam beberapa momen, ia seringkali mengeluhkan kondisinya yang menjadi sangat tertekan karena tidak bisa maksimal membesarkan anak karena energinya sudah habis dengan aktivitas bekerja. Pergi pagi buta, pulang sudah azan Isya. Sempat sih ketemu anak, tapi memang sangat dipaksakan, alih-alih merelakan sisa energinya digunakan demi anak. Sejak anakku usia 4 bulan hingga 14 bulan kemudian seperti itulah setiap hari. Senin sampai Jumat.

Beruntung aku masih bisa bekerja dari rumah, anak yang diasuh pembantu (untungnya lagi pembantu yang memang sudah lama mengabdi pada Mamaku sejak aku kecil) masih bisa merasakan peran orang tuanya.

Antara anak dan finansial inilah tarik menarik yang sangat kuat dalam diri istriku. Sampai akhirnya aku berani meyakinkan. Sudahlah, yakinlah keadaan tidak akan makin membaik meski kamu mempertahankan pekerjaanmu dan mengabaikan anak. Aku meyakinkan ada tugas mulia dari seorang ibu bagi anak-anaknya mumpung semua terlambat karena anak masih kecil. Dan jika saja sudah dewasa dan kita baru merasakan penyesalan betapa kita melewati pendidikan yang seharusnya didapatkan seoran anak.

Di situlah berkahnya. Pelan tapi pasti, aku dan istri mengenal bisnis. Istriku memang sudah memendam ketertarikan sejak lama ingin berbisnis. Dari sejak mahasiswa, sampai mulai bekerja pun sudah mencoba beberapa bisnis, meski akhirnya dijalankan sambi lalu saja karena memang tergerus pekerjaan utama dengan penghasilan pasti didapat setiap bulan.

Sementara aku, sejak dulu aku tak pernah menyentuh yang namanya bisnis. Ada resiko yang seolah menjadi momok kalau saja aku masuk dunia bisnis. Tapi ya itulah, karena memang aku tak pernah “dijerumuskan” pada dunia yang penuh ketidakpastian itulah makanya aku tanpa memilih masuk dunia bisnis. Aku tak pernah ditempa menempuh kesulitan yang menjadi sebuah tantangan dan mimpi besar jika aku menghadapinya. Aku terbiasa menjalani apa yang sudah seharusnya di jalani. Aku menjadi terbiasa bekerja mengikuti sistem sebagaimana robot yang hanya bergerak mengikuti perintah tombol-tombol.

Tapi perjalanan hidup setelah berumah tangga, kenyataan-kenyataan yang tak pernah kuperkirakan, keterdesakan-keterdesakan, hingga bayangan-bayangan bahwa aku harus menanggung ini semua dengan apa yang ada secukupnya setelah istri tak lagi bekerja membuat aku makin mengukuhkan tekad dan api membara bahwa aku bisa lebih dari sebelum-sebelumnya untuk sukses, meraih puncak keberhasilan.

Aku memantapkan diri untuk bisa mengembangkan bisnis. Aku membangun pelan-pelan jalan bisnis, di samping pekerjaanku yang memang bergelut dengan dunia digital/media online, aku menjalani sedikit demi sedikit pola seperti apa yang akan aku kerjakan di depan. Beruntung era digital sedikitnya memberiku manfaat banyak untuk meraih pundi-pundi rezeki.

Aku meyakinkan diri,a ku tak boleh kalah. Akulah pemegang kendalinya. Aku harus bisa membuktikan apa yang orang-orang ragukan denngan apa yang aku jalani, dengan apa yang aku pilih dan putuskan.

Aku hanya fokus menatap garis finish. Tahun 2017 adalah tahun silaturahim, tahun mimpi 100 juta eksemplar (aku memimpikan menulis buku dan laris mencapai penjualan 100 juta eksemplar), tahun laris 100 juta produk (ada beberapa bisnis yang sedang aku kembangkan), tahun bisnis omset tembus 100 juta rupiah, dan tahun mimpi hafal Al-Quran setidaknya 5-10 juz.

Untuk itu semua tentu aku harus meningkatkan kapasitas diriku, jasmani rohani (spiritual).

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammadin, wa ala aalin sayyidina Muhammad.

Aku, Istri dan anak-anakku diberi keberlimpahan berkah. Diampuni dosa-dosanya, diampuni dosa-dosanya, diampuni dosa-dosanya, dan rahmat Allah selalu tercurah hingga husnul khatimah. Pada akhirnya ke sanalah semua muara usaha-usahaku, mimpi-mimpiku. Berbuat baik memang tidak harus mimpi-mimpi kita terwujud, sebagaimana memulai sesuatu tidaklah harus menunggu segala sesuatunya sempurna, sebagaimana bersedekah tidaklah harus menunggu kita kaya harta berlimpah. Persoalannya adalah di saat sedikit dan berkecukupan kita berbuat baik, apalagi di saat banyak kita bisa berbuat lebih banyak. Kita mau dalam posisi Abu Bakar yang melepaskan seluruh hartanya di jalan Allah meski  tak banyak, atau seperti Umar bin Khattab yang menyumbangkan lebih besar hartanya dari Abu Bakar meski  nilainya hanya separuh dari seluruh hartanya. Keduanya adalah sahabat yang dicintai Rasul dan dikabarkan mendapat jaminan surga bersama delapan sahabat lain. Maka keduanya sama-sama tengah melakukan kebaikan.

Wallahualam bi showab

Depok, Jumat-24 Desember 2016, jam 00:31

Apakah Saya Sudah Terlambat?

Kalau tak salah ini foto saya tahun 2009 atau 2010. Masa kuliah jelang2 semester akhir di Bandung.

r

Gak ada yang layak dibanggakan sih, selain memang rambut gondrong dan badan kurus. Itu saja. Soal isi saya terbilang termasuk mandeg. Yah, ada lah beberapa pencapaian2 tapi ga signifikan.

Atas dasar itulah demi mengelak dari sebutan masa kecil kurang bahagia, tentu saya tak ingin jika stigma itu kesannya melekat ketika usia saya sudah larut.

Maka selayaknya saya mesti melakukan percepatan-percepatan.

Oh iya, percepatan itu beda dengan kecepatan. Anda jika di jalan tol cuma mampu cepat 80 Km/jam, maka tidak mustahil anda justru mampu genjot kecepatan sampai 120 Km/jam.
80 Km/jam itu kecepatan rata2 anda kalau biasa. Tapi 120 Km/jam anda menggeber lebih dari biasanya, nah yg 120 Km/jam ini namanya percepatan.

Mungkin saya agak sedikit terlambat, tapi saya masih punya waktu mau jadi apa diri saya ini.

Kalaulah sisa umur saya panjang, tentu saya tak ingin menyesal kelak di hari tua, bahwa saya baru menemukan kesadaran hendak kemana dan mau jadi apa saya ini. Sungguh kesadaran yang sia2 dan menyebalkan. Tentu kesadaran itu bahasa lain dari penyesalan. Toh saya tak bisa mengulang waktu.

Mungkin inilah maknanya petuah guru saya waktu saya mondok dulu: “sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu”. Saya insyaf (sadar) saya tertinggal terlampau jauh, maka saya sungguh merugi kalau saya tidak menggeber kecepatan saya, sekarang.

Nah, soal percepatan dan mau jadi apa diri saya, saya sudah merancang. Boleh jadi goal-nya sama seperti apa yg saya rancang, boleh jadi tidak. Itu bukan urusan saya. Urusan saya cuma lari. Lari secepat-cepatnya.

24 hari lagi usia saya 31. Saya sudah banyak membuang-buang waktu.

Saya tahu konsisten dan komitmen adalah dua hal yg paling sulit dalam hidup saya untuk urusan apa yg sudah saya rencanakan

SIAPAKAH SAYA?

Sejak kecil saya suka beli (dibelikan) dan baca buku biografi tokoh-tokoh. Dari mulai ilmuwan, pemimpin dunia, pengusaha2 sukses, sampai sahabat2 nabi. Kenapa?

Terus terang saja saya orang yang punya tingkat kepercayaan diri rendah, suka minder, cenderung malu, kecil nyali, bahkan merasa seperti ga ada yg bisa dibanggakan. Makanya menutupi itu semua saya suka menghabiskan diri dengan hal-hal yang bisa dilakukan sendiri, seperti larut dengan buku-buku. Mungkin ketertarikan saya pada buku ada pada sepersekian persen saya suka buku dan kata-kata. Selebihnya mungkin karena tak ada lagi yang bisa saya lakukan.

Kembali soal buku2 biografi. Dulu saya punya banyak koleksi buku tokoh, terutama ilmuwan semisal Thomas Alva Edison, Newton, Galileo Galilei, Hans Christian Andersen, Abraham Lincoln, dan lain- lain. Buku-buku itu semua berupa komik tokoh-tokoh. Bergambar. Saya suka mengoleksinya, dan saya baca sampai habis.

Satu hal yang membuat saya lekat dengan tokoh2 itu. Mereka punya kehidupan mengenaskan dan diremehkan saat kecil. Ya, diremehkan. Sangat saya sekali. Oleh karenanya saya merasa begitu dekat dengan kisah2 mereka, yang tentunya menjadi semacam hero bagi saya karena kelak mereka adalah orang2 besar. Saya seperti sedang dihibur: tenang, nanti kau akan bisa sukses dan besar seperti mereka. Hingga tahun demi tahun berbagai buku serial tokoh dan biografi berbagai jenis saya miliki, saya amat menyerap perjalanan demi perjalanan tokoh yang saya temui. Prinsip hidup, cara bertahan, cara bertarung.

Bahkan, kalau kalian tahu, bukan cuma buku, saya amat jeli jika ada koran atau majalah yang di dalamnya ada profil atau artikel sosok hidup seseorang. Pasti saya gunting, saya simpan, saya amankan.

Dulu zaman reformasi itu saya masih SMP. Di salah satu harian kalau tidak salah Rakyat Merdeka, ada rubrik khusus dimana tokoh2 dan aktivis tanah air semacam Amien Rais, Nurcholis Madjid (Cak Nur), Yusril, Gus Dur, dan tokoh2 aktivis lainnya itu diulas. Mulai dari mereka kecil, kesukaan mereka, hingga studi.

Karena itulah kepala saya amatlah random, satu hari pernah saya terobsesi jadi intelektual kuliah hingga ke US dan Mesir seperti Amien Rais, satu hari kemudian, saya berangan-angan jadi professor muda seperti Yusril. Di lain hari saya sangat tertarik jadi kiai yang luas wawasannya model Gus Dur, atau cendekiawan seperti Cak Nur.

Sekali lagi, itu saya waktu SMP, berangan-angan dalam kesendirian, di mana televisi tak habis-habis diputar gejolak mahasiswa dan hiruk pikuk negara jelang orba tumbang. Saat tokoh2 nasional menampakkan diri, dan kok bisa-bisanya saya terhipnotis.

Tahun demi tahun, lalu saya menggandrungi Chairil Anwar lalu merembet pada perjalanan panjang kesusatraan saya. Menyuntuki Penyair, Pengarang, dan penulis2 yang tak habis-habisnya.

Satu hal yang menarik dari buku sastra yang saya gandrungi adalah saya langsung membuka halaman atau bagian biodata penulis.

Lalu sebagaimana biasa, saya akan membandingkannya dengan diri saya. Lalu saya terobsesi, lalu angan-angan muncul. Lalu meresap dalam diri saya. Dan lagi-lagi, mental saya memang buruk. Saya hanya menjadi peangan-angan yang baik, penuh dengan nonsens. Minim kerja keras. Pemalas akut.

Tahun demi tahun lagi, ternyata saya memang masih belum menemukan format diri saya. Pengalaman masa kecil yang dibentuk dari kemurungan, dan tekanan-tekanan, menjadikan saya tidak cepat menemukan format diri (jati diri).
Format diri terbentuk sedikit demi sedikit, hancur lagi, dibangun lagi, hancur lagi,…

dan hingga sekarang…

saya masih gandrung membaca, menyuntuki sosok-sosok, dan,

Siapakah saya?